Bank Negara Indonesia (BBNI) menjadi tempat pelarian aman bagi modal asing di tengah tekanan aksi jual pemodal global terhadap saham-saham perbankan besar tanah air. Langkah taktis ini membedakan perseroan dari para pesaing utamanya dalam menghadapi volatilitas pasar keuangan.
Seperti diberitakan oleh Investortrust, emiten perbankan milik negara ini sukses membukukan aksi beli bersih investor asing senilai Rp 749,64 ibiar atau setara 47,1 juta dolar AS selama sebulan ke belakang. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan bank besar lain.
Bank Central Asia (BBCA) mencatatkan aksi jual bersih asing mencapai 362 juta dolar AS. Tren keluar modal foreign juga menimpa Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebesar 334 juta dolar AS dan Bank Mandiri (BMRI) senilai 257 juta dolar AS.
Aksi lepas saham perbankan lain membuat BBNI dinilai sebagai pilihan investasi bernilai tinggi karena berhasil memisahkan diri dari tren penurunan. Bank ini menunjukkan lompatan pertumbuhan kredit dua digit dengan valuasi harga yang jauh lebih murah daripada kompetitornya.
Performa keuangan perseroan pada kuartal pertama tahun 2026 membuktikan ketahanan bisnis yang kuat terhadap dinamika ekonomi global. Laba bersih BBNI melesat 5 persen menjadi Rp 5,7 triliun atau setara 358,5 juta dolar AS.
Pencapaian laba bersih tersebut sudah mencakup 27 persen dari total perkiraan tahunan. Pemicu utama pertumbuhan ini berasal dari sektor penyaluran kredit yang melonjak hingga 20,1 persen secara tahunan.
Sektor korporasi menjadi motor penggerak utama pertumbuhan kredit dengan ekspansi sebesar 23,5 persen. Angka ini sekaligus mengindikasikan bahwa aktivitas industri di dalam negeri masih berjalan sangat produktif.
Rekomendasi Analis Pasar Modal
Sejumlah analis dari sekuritas lokal maupun global semakin optimistis terhadap prospek saham perbankan pelat merah ini. Victoria Venny, analis dari MNC Sekuritas, menetapkan target harga untuk BBNI pada level Rp 5,100 per lembar saham.
Rekomendasi tersebut didorong oleh penilaian harga pasar saat ini yang masih berada di bawah nilai buku. Rasio harga terhadap nilai buku atau Price to Book Value (PBV) emiten berada di angka 0,8 kali.
"BBNI's asset quality remains stable with a gross Non-Performing Loan (NPL) level of 1.9%, while the Loan at Risk (LAR) ratio improved to 8.6%," kata Victoria Venny dalam laporan risetnya.
Ia menekankan nilai saham ini sangat menarik karena posisinya berada 1,5 standar deviasi di bawah rata-rata pergerakan selama 10 tahun terakhir. Pandangan serupa disampaikan tim analis dari BRI Danareksa Sekuritas.
Analis Naura Reyhan Muchlis dan Victor Stefano memberikan rekomendasi beli untuk saham berkode BBNI dengan target harga Rp 4,700. Proyeksi mereka bersandar pada estimasi Return on Equity (ROE) emiten sebesar 11,8 persen untuk tahun 2026.
Pembagian Dividen Tunai dan Efisiensi Bisnis
Komitmen tinggi terhadap pengembalian modal kepada para pemegang saham juga menjadi fokus perseroan. Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada 9 Maret 2026, manajemen menyetujui pembagian dividen tunai senilai Rp 13,03 triliun.
Langkah korporasi tersebut dibarengi dengan rencana aksi pembelian kembali saham atau buyback dengan alokasi dana maksimal Rp 905,48 miliar atau setara 56,9 juta dolar AS. Manajemen juga akan menerapkan efisiensi operasional yang ketat.
Hingga akhir tahun 2026, perseroan membidik pertumbuhan kredit berkisar 8 sampai 10 persen. Kenaikan biaya operasional dibatasi maksimal 7 persen guna menjaga margin keuntungan dari tekanan suku bunga global.