Ashmore Padukan Strategi Waspada dan Oportunistik Hadapi Tekanan Pasar

Ashmore Padukan Strategi Waspada dan Oportunistik Hadapi Tekanan Pasar
Foto: Ilustrasi Ashmore Padukan Strategi Waspada dan Oportunistik Hadapi Tekanan Pasar.

PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk mengadopsi filosofi investasi yang memadukan sikap waspada dan oportunistik guna menghadapi tantangan pasar saham saat ini. Langkah tersebut diambil akibat tingginya ketidakpastian global yang dipicu oleh konflik geopolitik, lonjakan harga minyak dunia, serta derasnya arus keluar modal asing.

Kondisi pasar modal domestik saat ini sedang mengalami tekanan hebat yang terlihat dari penurunan indeks saham secara berturut-turut. Berdasarkan data yang dihimpun, indeks saham sempat melemah sebesar 1,8 persen sebelum kembali merosot hingga 3,2 persen dalam perdagangan harian, seperti dilansir dari Money.

Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk Arief Cahyadi Wana menjelaskan bahwa situasi makroekonomi saat ini tidak memungkinkan pelaku pasar hanya mengandalkan optimisme. Ketidakpastian dari sektor geopolitik dan ekonomi global membuat pergerakan pasar menjadi sangat sulit untuk diprediksi secara akurat.

"Ada dua filosofi yang kami adopsi sekarang, yaitu cautious (waspada) dan opportunistic (oportunistik)," ujar Arief dalam SMBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Pihaknya menyikapi fluktuasi indeks saham domestik yang terkoreksi tajam dalam beberapa hari terakhir secara saksama. Penurunan tersebut menuntut pengelolaan portofolio yang jauh lebih selektif.

"Mohon maaf, saya tidak bisa dengan lantang bicara bahwa saya ini sangat positif dan saya ini sangat optimis karena memang situasi yang kita alami sekarang ini terlalu banyak ketidakpastian," kata Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.

Menurutnya, pergerakan indeks saham dalam perdagangan harian mencerminkan tekanan intensif yang sedang terjadi di pasar modal. Investor disarankan tidak sekadar mengejar keuntungan jangka pendek tanpa analisis risiko mendalam.

"Posisi kami melihat pasar saham, yang sebetulnya as we speak market lagi turun sekitar 3,2 persen. Kemarin turun juga 1,8 persen," ujarnya.

Faktor utama yang menjadi perhatian adalah lonjakan harga minyak dunia sejak Februari akibat ketegangan antara Iran dan Israel. Ashmore memproyeksikan harga minyak komoditas tersebut akan sulit kembali ke level rendah dalam waktu dekat.

"Kita tahu dari Februari oil prices sudah meroket," terang Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.

Kenaikan harga komoditas energi ini dinilai menjadi risiko terbesar bagi emiten karena berdampak langsung pada inflasi, penetapan suku bunga, hingga profitabilitas korporasi.

"Kami melihat bahwa oil prices ini sulit untuk balik ke 50 dollar AS atau 60 dollar AS," ujarnya.

Guna mengantisipasi dampak tersebut, Ashmore melakukan studi komparatif terhadap guncangan harga minyak yang pernah terjadi selama 45 tahun terakhir.

"Kami melakukan beberapa simulasi dan melihat ke beberapa oil shock yang terjadi hampir 45 tahun terakhir, bahwa memang membutuhkan waktu antara enam sampai tujuh bulan untuk oil prices itu normalize," papar Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.

Hasil simulasi historis tersebut dijadikan landasan utama dalam merumuskan keputusan penempatan dana pada instrumen ekuitas.

"Ini menurut saya sangat penting untuk melihat bagaimana kita menyikapi juga investasi," ujarnya.

Penerapan sikap waspada diwujudkan melalui analisis sensitivitas portofolio terhadap skenario pergerakan harga minyak dunia pada level 70 dollar AS, 85 dollar AS, hingga 100 dollar AS per barel.

"Risiko dari earning risk itu cukup besar karena oil prices," sebut Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.

Potensi penurunan laba bersih emiten akibat tingginya biaya energi mendorong perusahaan manajemen investasi ini mengambil posisi yang lebih konservatif.

"Makanya kenapa kami dalam melihat portfolio kami agak sedikit cautious pada view," kata Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.

Selain faktor energi, tekanan pasar modal diperparah oleh aksi jual investor asing yang mencatat arus keluar modal sekitar 2,4 miliar dollar AS hingga mendekati 2,9 miliar dollar AS.

"Indonesia untuk equity itu kita mengalami outflow sekitar 2,4 billion, mungkin as of now ke sekitar 2,8 atau 2,9 billion," ujarnya.

Kondisi tersebut semakin tertekan oleh rebalancing indeks MSCI yang mengurangi bobot beberapa saham berkapitalisasi besar di Indonesia.

"Kita melihat ada outflow sekitar 1 miliar dollar AS dan ini masih berkelanjutan," kata Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.

Sentimen negatif dari keluarnya dana asing tersebut langsung berdampak pada stabilitas harga saham di bursa domestik.

"Kita melihat dalam dua hari terakhir ini tekanan terhadap indeks cukup intens," sambung Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.

Kendati bersikap hati-hati, Ashmore secara oportunistik mengincar sektor bisnis yang justru diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas, seperti sektor energi dan bahan baku.

"Kalau kita melihat sektor energi atau sektor basic materials yaitu commodity, itu dengan kenaikan oil prices (di level) 100 dollar AS mereka tumbuhnya lebih cepat," kata Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.

Ketersediaan komoditas yang melimpah di dalam negeri dinilai membuat posisi Indonesia secara umum cukup tangguh dalam menghadapi lonjakan harga energi global.

"Indonesia itu sebetulnya tidak terlalu worse off with harga oil prices naik," ujar Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.

Kendati demikian, efektivitas mitigasi risiko ini akan sangat bergantung pada kebijakan yang diambil oleh pihak otoritas dalam mengendalikan dampak rambatan ekonomi.

"Selama tentunya regulator dan pemerintah bisa memanage ini dengan baik," kata Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.

Arief menambahkan bahwa penentuan strategi jangka panjang tetap krusial mengingat dinamika pasar yang sangat fluktuatif, berkaca pada pengalamannya mengamati berbagai krisis ekonomi sejak 1996.

"Masa sekarang seperti ini agak sulit untuk melihat apa yang akan terjadi dalam tiga atau lima tahun," ujar Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.

Ia mencontohkan situasi krisis moneter 1998 ketika saham PT United Tractors Tbk (UNTR) anjlok hingga ke level 300 rupiah per lembar saham akibat sentimen pasar yang buruk.

"Saya melihat market dari tahun 1996. Jadi saya sudah melihat banyak sekali krisis," kata Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.

Pada saat krisis hebat tersebut terjadi, mayoritas pelaku pasar bersikap pesimistis terhadap kelangsungan bisnis sektor alat berat.

"Tahun 1998 saya masih ingat semua tidak ada yang mengantar satu perusahaan saja yang namanya United Tractors. Waktu harganya cuma 300 perak," ujar Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.

Kendati sempat dinilai tidak mampu mencatatkan penjualan, saham emiten tersebut justru berbalik menguat signifikan dalam jangka panjang.

"Pada saat itu saya tidak bisa melihat mereka itu bisa menjual satu pun alat heavy," kata Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.

Pengalaman masa lalu tersebut memperkuat dasar pengelolaan dana Ashmore yang mengombinasikan kalkulasi taktis jangka pendek dengan prospek fundamental jangka panjang.

"Ada short term technical strategy, ada long term," ujar Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.

Pilihan strategi jangka panjang tetap diambil demi mendapatkan kejelasan fundamental emiten, meski harus merelakan potensi momentum kenaikan awal di pasar modal.

"Long term itu biar kita ketinggalan 10 sampai 20 persen, tapi kita melihat bahwa outlook fundamentalnya lebih clear dibanding sekarang," kata Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.

Keseimbangan antara kewaspadaan tinggi dan ketajaman dalam melihat peluang sektor tertentu menjadi kunci utama pengelolaan aset di tengah ketidakstabilan ekonomi global.

"Dua kata yang penting untuk melihat masa sekarang itu adalah memadukan penuh cautious, tapi juga harus opportunistic," tukas Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.

Artikel terkait

Rekomendasi