Tingkat utilisasi industri keramik nasional ditargetkan mampu menyentuh angka 73 hingga 75 persen pada tahun 2026. Langkah ini diambil seiring dengan sinyal pemulihan sektor manufaktur tersebut setelah sempat tertekan selama beberapa tahun terakhir.
Seperti dikutip dari Suara, para pelaku usaha kini mulai aktif memacu volume penjualan. Upaya memperluas jaringan pasar domestik juga terus digenjot melalui partisipasi dalam ajang pameran industri serta properti berskala besar.
Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) optimistis target produktivitas tersebut dapat terealisasi. Angka ini merupakan hasil penyesuaian dari rencana kerja yang telah disusun sebelumnya oleh pihak asosiasi.
Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto menjelaskan bahwa proyeksi ini mengalami perubahan dari rencana semula. Walau demikian, pergerakan sektor ini dinilai tetap memperlihatkan grafik yang positif.
"Kita masih bisa mengejar target, kami sudah merevisi. Target awal 80 persen tingkat utilisasi. Namun yang terbaru ini kami merevisi target utilisasi 2026 73 sampai 75 persen," jelas Edy di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Sektor ini pernah mencapai masa keemasan pada 2021 dengan tingkat keterisian kapasitas produksi sebesar 75 persen. Kendati demikian, performa operasional pabrik sempat merosot hingga menyentuh level terendah sebesar 66 persen pada 2024.
Kondisi operasional mulai berbalik arah sejak tahun lalu. Merujuk pada data performa sepanjang Januari hingga Mei 2026, angka utilisasi pabrikan lokal kini sudah berada di level 72 persen.
Ekspansi kapasitas juga terus berjalan secara bertahap. Sepanjang kurun waktu 2020 sampai 2024, pelaku usaha telah menambah ruang produksi baru sebesar 73 juta meter persegi.
Untuk jangka panjang periode 2025 hingga 2029, pelaku industri merencanakan penambahan kapasitas pasokan hingga 90 juta meter persegi. Penguatan modal ini ditujukan agar seluruh kebutuhan pasar dalam negeri dapat dipenuhi mandiri tanpa opsi impor.
"Keramika 2026 adalah etalase kebanggaan industri keramik nasional. Kami ingin membuktikan bahwa kualitas, desain dan teknologi pabrikan lokal siap bersaing di pasar global sekaligus memenuhi kebutuhan proyek-proyek premium di Indonesia," kata Edy.
Pameran dagang kini menjadi instrumen utama korporasi untuk mempercepat transaksi bisnis. Agenda terintegrasi seperti Megabuild, Keramika, dan Megaproperty 2026 dijadwalkan berlangsung pada 4-7 Juni mendatang.
Eksibisi ini diproyeksikan menjadi titik temu strategis antara produsen hilir dengan para pemangku kepentingan. Mulai dari kontraktor proyek, arsitek, pengembang kawasan, hingga konsumen retail.
Presiden Direktur Panorama Media Royanto Handaya mengonfirmasi bahwa platform ini didesain sebagai instrumen akselerasi usaha. Integrasi lintas sektor ini diharapkan mempermudah pencarian mitra strategis baru.
"Kami merancang edisi 2026 ini bukan sekadar pameran, melainkan katalisator pertumbuhan ekonomi," ujarnya.