Satu dari lima remaja diprediksi akan mengalami depresi sebelum mereka mencapai usia 25 tahun. Lonjakan masalah kesehatan mental pada kelompok usia ini dilaporkan terus meningkat dari tahun ke tahun.
Bahkan, sebanyak 12% remaja tercatat mengalami setidaknya satu kali gangguan parah. Kondisi tersebut sampai mengganggu aktivitas dan kehidupan sehari-hari mereka.
Perubahan suasana hati seperti mudah marah, cepat sedih, sensitif, atau malas beraktivitas sebenarnya normal terjadi pada remaja. Hal ini dipengaruhi oleh hormon, tekanan sekolah, pergaulan, hingga proses pencarian jati diri.
Namun, jika emosi negatif tersebut berlangsung selama dua minggu atau lebih, kondisi ini bisa menjadi tanda depresi. Kasus ini tidak boleh dianggap sepele, seperti dikutip dari Medcom.
ÔÇ£Secara umum, satu dari lima remaja akan mengalami depresi sebelum mereka mencapai usia 25 tahun,ÔÇØ kata Susan Weinstein, wakil direktur eksekutif bidang program dan operasional di Families for Depression Awareness dilansir dari Parents.
Banyak remaja merasa kesulitan menghadapi tekanan hidup, merasa sendirian, atau tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Oleh karena itu, keluarga, teman, dan lingkungan sekitar wajib lebih peka terhadap perubahan perilaku dan kondisi emosional mereka.
Berdasarkan data National Institute of Mental Health (NIMH), sebanyak 17% remaja usia 12 hingga 17 tahun mengalami setidaknya satu episode depresi mayor pada tahun 2020. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 4,1 juta remaja di Amerika.
Jennifer Rothman, manajer senior inisiatif remaja dan dewasa muda di National Alliance on Mental Illness (NAMI), juga mengatakan bahwa angka depresi pada remaja terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, lebih dari satu juta remaja mengalami depresi, pada tahun 2020 dibandingkan tahun 2017.
Data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) pada tahun 2021 turut menunjukkan kondisi kesehatan mental remaja yang semakin mengkhawatirkan.
Beberapa kelompok remaja tercatat memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental. Kelompok rentan ini termasuk siswa LGBTQIA, perempuan, serta kelompok ras dan etnis yang termarjinalkan.
Hampir setengah siswa LGBTQIA dilaporkan pernah mempertimbangkan bunuh diri. Sementara itu, siswa kulit hitam tercatat lebih sering melakukan percobaan bunuh diri dibandingkan remaja dari kelompok ras dan etnis lainnya.
Depresi pada remaja tidak bisa dianggap hanya sebagai fase perubahan suasana hati biasa. Dukungan dari orang terdekat, komunikasi yang sehat, serta bantuan profesional sangat penting agar remaja merasa didengar dan dipahami.