Andrie Yunus Tolak Kunjungan Oditurat Militer di RSCM

Andrie Yunus Tolak Kunjungan Oditurat Militer di RSCM
Foto: Ilustrasi Andrie Yunus Tolak Kunjungan Oditurat Militer di RSCM.

Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, menolak kunjungan empat anggota Oditurat Militer di Rumah Sakit Cipto Mangun (RSCM), Jakarta Pusat, pada Selasa (12/5/2026). Penolakan ini didasari atas pertimbangan kondisi kesehatan Andrie yang masih dalam tahap pemulihan intensif pascaoperasi keenam akibat serangan air keras.

Koordinator Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya, menyampaikan bahwa keputusan tersebut murni merupakan keinginan pribadi Andrie. Penolakan ini disampaikan kepada pihak Oditurat Militer yang datang untuk menengok kondisi korban sebagaimana dilansir dari Megapolitan.

"Karena menimbang juga kondisi medisnya dan juga situasinya pasca operasi keenam. Jadi memang dengan situasi seperti itu, dia tidak berkenan ditemui untuk hari ini," jelas Dimas kepada wartawan di RSCM, Selasa.

Setelah pertemuan langsung dibatalkan, empat anggota Oditurat Militer tersebut berkoordinasi dengan Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) dan manajemen rumah sakit. Pihak kuasa hukum kembali menegaskan posisi kliennya yang belum bisa menerima tamu.

"Jadi inti pertemuannya tadi juga menyampaikan mengonfirmasi kembali bahwa menjenguk itu ditolak sama Andrie gitu ya," ujar Dimas.

Dimas juga menekankan bahwa setiap institusi negara yang ingin berinteraksi dengan tim medis harus mengikuti jalur formal yang berlaku. Hal ini mencakup pengiriman surat resmi kepada pihak rumah sakit.

"Jadi harus ada prosedur protokol yang dipatuhi oleh siapa pun, termasuk oleh lembaga negara," tegasnya.

Anggota TAUD, Fadhil Alfathan, menyayangkan adanya ketidakkonsistenan jadwal kunjungan dari pihak Oditurat Militer II-07. Meskipun informasi awal menyebutkan kunjungan akan dilakukan pada Senin (11/5/2026), pihak Oditurat baru muncul pada hari berikutnya tanpa koordinasi lanjut.

"Andrie jawab dengan kondisi medis yang juga sedang dalam proses perawatan dan pemulihan, bilang dia lebih baik beristirahat saja, lebih baik fokus saja dengan perawatan medis," jelasnya.

Fadhil menyiratkan adanya ketidakhormatan terhadap tim kuasa hukum karena perubahan jadwal tersebut. TAUD mengaku sudah bersiaga sejak hari Senin untuk memfasilitasi rencana kunjungan tersebut.

"Kami selaku tim kuasa hukum merasa juga tidak dihormati, tidak pernah dapat informasi, tidak pernah dihubungi atau dikoordinasikan sehubungan dengan rencana kunjungan ini," katanya.

Adapun empat personel Oditurat Militer yang hadir adalah Letkol Chk Muhammad Iswadi, Mayor Chk Wasinton Marpaung, Letkol Chk Upen Jaya Supena, dan Kapten Chk Citra Dewi Manurung. Mereka mewakili institusi yang menaungi empat terdakwa kasus penyiraman air keras tersebut.

"Siang hari ini, secara dari sisi kemanusiaan, kami ingin membesuk atau menengok saudara Andrie Yunus yang menjadi korban dari para terdakwa," ujar Letkol Chk Muhammad Iswadi saat dijumpai di RSCM.

Iswadi menyatakan pihaknya dapat memahami kendala medis yang dialami korban. Berdasarkan laporan medis, Andrie memerlukan ketenangan total agar proses penyembuhan tidak terganggu.

"Namun saudara Andrie Yunus baru selesai melaksanakan operasi dan hari ini pasca operasi masih dalam proses penyembuhan, sehingga memang betul tidak bisa dikunjungi," sambungnya.

Oditurat Militer menerima penjelasan dari manajemen RSCM mengenai risiko medis yang membayangi kondisi fisik Andrie saat ini. Pergerakan pada bagian tubuh tertentu dapat berakibat fatal bagi hasil pembedahan yang telah dilakukan.

"Dan di sebelah kanan, bahu sebelah kanan itu tidak boleh bergerak. Tadi informasi dari manajemen rumah sakit, ini harus posisi statis. Kalau bergerak sedikit, nanti operasinya akan gagal. Jadi kami, kami memahami situasi dari saudara Andre Yunus," jelasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi