PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk menetapkan susunan pengurus baru melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang berlangsung di kawasan Ancol, Jakarta Utara, pada Selasa (14/4/2026). Langkah strategis ini diambil perseroan untuk memperkuat tata kelola dan menghadapi tantangan ekonomi global ke depan.
Perubahan tersebut mencakup perombakan pada posisi Dewan Komisaris dan jajaran Direksi. Corporate Communication Manager PT Pembangunan Jaya Ancol, Daniel Windriatmoko, mengonfirmasi bahwa keputusan ini telah disetujui secara resmi dalam rapat tahunan tersebut.
"RUPS juga menyetujui perubahan Susunan Pengurus Perseroan, untuk memperkuat strategi bisnis ke depan," ucap Daniel Windriatmoko dalam keterangan resmi yang dilansir dari Megapolitan.
Dalam struktur kepemimpinan yang baru, Irfan Setiaputra dipercaya menjabat sebagai Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen. Ia didampingi oleh sejumlah komisaris lainnya termasuk mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, dan Lies Hartono.
Posisi Direktur Utama kini dijabat oleh Syahmudrian Lubis. Sementara itu, jajaran direksi lainnya diisi oleh Cahyo Satriyo Prakoso, Daniel Nainggolan, Eddy Prastiyo, dan Rahmaniar.
| Jabatan | Nama Pengurus |
|---|---|
| Komisaris Utama / Independen | Irfan Setiaputra |
| Komisaris | Sutiyoso |
| Direktur Utama | Syahmudrian Lubis |
Manajemen menegaskan komitmennya untuk tetap melakukan inovasi di tengah tekanan ekonomi. Fokus utama perseroan akan diarahkan pada efisiensi operasional melalui penguatan sistem digital.
"Meski situasi eksternal masih menghadapi tantangan ekonomi global, perseroan tetap fokus pada inovasi dan efisiensi operasional, seperti digitalisasi layanan ticketing, peningkatan fasilitas pengunjung, serta pengembangan konten/event tematik baru, sehingga berhasil mempertahankan pendapatan seperti tahun lalu," ujar Daniel.
Pihak manajemen menilai industri rekreasi saat ini sedang mengalami pergeseran fundamental. Pengunjung kini tidak lagi sekadar mencari tempat wisata, melainkan pengalaman yang memiliki nilai tambah.
"Bukan untuk bertahan, tetapi lebih dari itu untuk melangkah ke fase transformasi berikutnya," tutur Daniel.
Menurutnya, orientasi bisnis Ancol harus beradaptasi dengan keinginan konsumen yang kian berkembang. Transformasi ini menjadi kunci bagi keberlangsungan bisnis destinasi wisata milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tersebut.
"Industri destinasi wisata dan leisure telah berubah secara fundamental. Customer/visitor tidak lagi hanya menikmati tempat destinasi, tetapi lebih dari itu bagaimana customer dapat menikmati sebuah pengalaman baru (experiences), koneksi dan value/nilai dari yang telah mereka keluarkan," lanjut Daniel.
Selain perombakan pengurus, RUPS juga menyepakati pembagian dividen sebesar Rp 26,05 per lembar saham. Total nilai dividen yang dibayarkan mencapai Rp 41,6 miliar atau setara dengan 23,13 persen dari laba bersih.
"Sepanjang 2025, perseroan mencatat pendapatan usaha sebesar Rp 1.121 triliun dengan laba bersih tahun berjalan Rp 180,19 miliar," jelas Daniel.
Ke depan, Ancol berencana mengoptimalkan seluruh aset dan ekosistem yang dimiliki berdasarkan pengolahan data yang akurat. Strategi ini diharapkan mampu membangun kolaborasi jangka panjang demi meningkatkan daya saing perusahaan.
"Fokus Ancol kedepan antara lain, meningkatkan value per customer, bukan hanya sekedar jumlah pengunjung. Mengoptimalkan asset dan ekosistem, bukan hanya operasional. Mengoptimalkan data sebagai penggerak keputusan bukan hanya asumsi dan membangun kolaborasi strategis yang memperkuat daya saing panjang," tambah Daniel.