Aksi jual bersih atau net sell oleh investor asing melanda PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dalam beberapa bulan terakhir dengan nilai mencapai Rp4,72 triliun dalam sebulan terakhir. Meski demikian, sejumlah analis tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk saham perbankan swasta terbesar tersebut karena prospek kinerjanya dinilai masih kuat.
Dilansir dari Investortrust, posisi net sell BBCA menempati peringkat kedua terbanyak setelah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang mencatatkan aksi jual asing sebesar Rp5,84 triliun dalam periode bulanan yang sama. Meskipun dihujani aksi jual, optimisme pasar tetap terjaga berkat capaian laba bersih perseroan.
Pada kuartal I-2026, Bank Central Asia berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp14,7 triliun. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 4 persen baik secara kuartalan (quarter-on-quarter) maupun tahunan (year-on-year), yang sekaligus memenuhi 24 persen dari estimasi kinerja setahun penuh.
BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham BBCA dengan target harga Rp10.900 per lembar, yang mencerminkan potensi kenaikan 82,42 persen dari harga penutupan sebelumnya di level Rp5.975. Valuasi saham dinilai menarik karena berada di bawah minus tiga standar deviasi dari rata-rata lima tahun, meski potensi penurunan kualitas aset tetap dicermati.
Penilaian positif juga datang dari MNC Sekuritas yang mempertahankan rekomendasi beli, namun mereka memangkas target harga saham BBCA menjadi Rp8.700 dari sebelumnya Rp10.500. Penyesuaian ini dipicu revisi biaya modal atau cost of equity menjadi 7,5 persen, yang mengimplikasikan rasio price to book value sebesar 3,4 kali untuk tahun 2026.
MNC Sekuritas memproyeksikan kinerja BBCA ke depan akan tetap tangguh berkat pertumbuhan laba sebelum provisi dan operasional yang efisien. Stabilitas laba bersih perseroan juga didukung oleh posisi permodalan yang solid, sehingga mampu meredam tekanan jangka pendek pada margin bunga bersih.
Sementara itu, Mandiri Sekuritas menetapkan target harga BBCA sebesar Rp8.600 dengan mempertahankan rekomendasi beli atas dasar ketahanan kinerja perseroan. Pertumbuhan laba awal tahun ini berhasil ditopang oleh peningkatan pendapatan non-bunga serta kedisiplinan dalam menjaga biaya operasional.