Amartha Salurkan Pembiayaan UMKM Rp13,2 Triliun Sepanjang 2025

Amartha Salurkan Pembiayaan UMKM Rp13,2 Triliun Sepanjang 2025
Foto: Ilustrasi Amartha Salurkan Pembiayaan UMKM Rp13,2 Triliun Sepanjang 2025.

Perusahaan teknologi finansial Amartha mencatatkan penyaluran modal kerja sebesar Rp13,2 triliun kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah perdesaan sepanjang tahun 2025. Dilansir dari Investortrust, dana tersebut telah menjangkau lebih dari 3,7 juta mitra usaha yang tersebar di 50.000 desa di seluruh Indonesia.

Akumulasi penyaluran pembiayaan perusahaan sejak berdiri pada 2010 kini telah melampaui angka Rp37 triliun. Pencapaian ini mengukuhkan peran sektor fintech dalam memenuhi kebutuhan permodalan masyarakat akar rumput yang selama ini belum terjangkau oleh layanan perbankan konvensional.

Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, menjelaskan bahwa pertumbuhan signifikan ini didorong oleh strategi perusahaan yang berfokus pada karakteristik masyarakat desa. Penjelasan tersebut disampaikan dalam acara Media Gathering yang berlangsung di Jakarta pada Jumat (23/1/2026).

"Produk kami didesain atas dasar pemahaman mendalam tentang kebutuhan, masalah, dan solusi yang diharapkan oleh UMKM akar rumput," ujar Andi Taufan Garuda Putra, Founder & CEO Amartha.

Pihak manajemen memastikan bahwa perluasan jangkauan pasar ini tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Langkah ekspansi tersebut dilakukan secara beriringan dengan penguatan sistem mitigasi risiko dan tata kelola perusahaan yang ketat.

"Kombinasi pemahaman market, produk yang relevan, tata kelola, dan partnership dengan institusi global, menjadi fondasi Amartha untuk terus tumbuh berkelanjutan," kata Andi Taufan Garuda Putra, Founder & CEO Amartha.

Hingga akhir 2025, perusahaan telah mengintegrasikan layanan pembayaran digital, investasi mikro, dan pembiayaan dalam satu platform aplikasi. Selain itu, jaringan AmarthaLink telah merangkul lebih dari 50.000 agen untuk membantu masyarakat yang belum fasih menggunakan akses digital.

Komisaris Utama Amartha, Rudiantara, menilai bahwa transparansi dan manajemen risiko yang baik telah memperkuat posisi perusahaan di mata para pemodal. Hal ini tercermin dari keberhasilan perusahaan menjaga performa fundamental yang solid.

"Dengan model bisnis yang jelas, manajemen risiko yang baik serta penerapan governansi standar perusahaan publik menghasilkan kinerja Amartha yang solid secara fundamental," ujar Rudiantara, Komisaris Utama Amartha.

Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika tersebut menambahkan bahwa keberhasilan kinerja ini memberikan dampak berantai bagi penguatan ekonomi lokal. Kepercayaan investor menjadi kunci utama dalam menjaga aliran likuiditas ke sektor produktif di desa.

"Selain meningkatkan kepercayaan bagi lebih dari 30 investor nasional maupun internasional, kinerja Amartha juga otomatis menjadi penggerak ekonomi di akar rumput," kata Rudiantara, Komisaris Utama Amartha.

Sementara itu, kondisi pasar pembiayaan alternatif ini mendapat tanggapan dari pengamat ekonomi. Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, mengamati adanya pergeseran preferensi sumber modal di kalangan pelaku usaha akibat dinamika di sektor perbankan.

"Pelaku usaha akhirnya mencari sumber pembiayaan alternatif, salah satunya adalah pinjaman daring," ujar Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital Celios.

Memasuki awal 2026, Amartha menargetkan penguatan ekosistem layanan terintegrasi guna memperluas jangkauan UMKM desa. Sektor fintech diproyeksikan menjadi pilar penting bagi pertumbuhan ekonomi inklusif nasional di tengah berbagai tantangan ekonomi global.

Artikel terkait

Rekomendasi