Sektor penatu atau laundry di Indonesia dinilai menjadi salah satu pasar paling potensial di kawasan Asia Pasifik. Pendorong utama peningkatan permintaan ini berasal dari pertumbuhan hotel, rumah sakit, layanan kesehatan, hingga penatu komersial.
Dilansir dari Investor Daily, laporan Statista memproyeksikan pendapatan pasar bisnis penatu di Indonesia akan tumbuh konsisten sebesar 7,48% per tahun sepanjang 2025-2030. Volume pasar tersebut diperkirakan menembus angka US$ 2,38 miliar.
Secara global, nilai pasar perawatan rumah dan cucian diprediksi mencapai US$ 208,94 miliar tahun ini. Untuk periode 2026-2031, sektor tersebut diproyeksikan tumbuh dengan CAGR sebesar 3,10% per tahun, dengan perawatan pakaian sebagai penyumbang terbesar.
Managing Director APAC Alliance Laundry Systems (ALS), Ben Dobbs, menjelaskan bahwa fasilitas produksi di Thailand saat ini menjadi pusat manufaktur utama. Kapasitas bangunan di sana bahkan masih bisa diperluas hingga dua kali lipat untuk pasar internasional.
Namun, Ben Dobbs mengakui bahwa Indonesia sangat menarik karena menjadi pasar utama bagi bisnis otomatisasi dan penatu skala besar. Pertumbuhan industri ini di tanah air terpantau sangat kuat dalam beberapa tahun terakhir.
"Dari perspektif manufaktur, jangan pernah bilang tidak mungkin. Kami memiliki strategi pertumbuhan yang agresif, terutama di Indonesia dan pasar berkembang lainnya di Asia Tenggara. Selalu ada ruang bagi kami untuk mempertimbangkan (membangun pabrik)," ucap Dobbs.
Dalam menjalankan model bisnisnya, perusahaan mengandalkan jaringan distributor dan solusi turnkey. Di Thailand, ALS memiliki jaringan ratusan toko, sementara di Indonesia perusahaan telah menjalin kemitraan dengan sejumlah pemain utama industri.
Tren industrialisasi bisnis penatu di Asia Tenggara saat ini berkembang pesat. Kondisi tersebut didorong oleh kemajuan industri hospitality serta peningkatan kesadaran terhadap standar lingkungan dan penggunaan teknologi modern.
ALS juga menyoroti peluang besar pada bisnis On-Premise Laundry (OPL), yaitu fasilitas penatu yang beroperasi langsung di lokasi seperti hotel dan rumah sakit. Model bisnis ini diharapkan dapat berkembang lebih jauh menuju tahap industrialisasi di Indonesia.
"Di Indonesia, kami berharap model bisnis ini bisa berkembang lebih jauh menuju industrialisasi," ujar Dobbs.
Saat ini, ALS telah mendominasi sekitar 70% pangsa pasar alat dan sistem penatu komersial di wilayah Asia. Distributor biasanya membeli mesin dari ALS untuk membangun waralaba sendiri, sedangkan ALS menyediakan layanan instalasi hingga purnajual.
Di pasar domestik, ALS telah bekerja sama dengan Jakarta Coin Laundry yang mengoperasikan mesin merk IPSO. Selain itu, mereka juga bermitra dengan Opera Sabun yang menggunakan mesin cuci merk Speed Queen.
Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebelumnya menyatakan bahwa industri jasa laundry memiliki peran strategis bagi ekonomi nasional. Sektor ini tercatat mampu menyerap hingga 34 ribu tenaga kerja formal maupun nonformal.
Asosiasi Laundry Indonesia (ASLI) juga mencatat peningkatan jumlah anggota rata-rata 20% setiap tahunnya. Saat ini, asosiasi tersebut memiliki 21 DPD aktif dengan lebih dari 1.800 anggota resmi yang menunjukkan daya saing positif pada industri jasa modern ini.