Individu yang memiliki kecerdasan tinggi dan kemampuan analisis mendalam ternyata sering menghadapi hambatan besar saat harus menentukan pilihan. Ambisi untuk selalu menemukan opsi paling sempurna ini secara perlahan dapat mengikis kesejahteraan mental seseorang.
Fenomena ini diperkuat oleh penelitian bertajuk "Maximizing versus satisficing: happiness is a matter of choice" dalam Journal of Personality and Social Psychology (2002). Riset tersebut menunjukkan bahwa orang yang terus-menerus mengejar kesempurnaan cenderung merasa kurang puas dan memiliki harga diri yang lebih rendah.
Seperti dilansir dari Lifestyle, psikolog Mark Travers melalui tulisannya di Psychology Today yang disadur pada Minggu (17/5/2026), menjabarkan tiga alasan psikologis di balik kesulitan tersebut.
1. Menuntut Kesempurnaan Mutlak dalam Setiap Opsi
Pemilik kecerdasan tinggi umumnya menetapkan standar yang sangat tinggi dalam hidupnya. Sifat ini berisiko membentuk karakter maximizer, yaitu kondisi ketika seseorang merasa wajib menemukan pilihan yang benar-benar sempurna sebelum melangkah.
Namun, proses menimbang alternatif yang terlalu lama ini justru menguras energi pikiran dan menunda kepastian.
"Bukannya memilih secara efisien, mereka malah terus mencari celah yang lebih baik meskipun sudah mendapatkan satu pilihan yang bagus. Proses menimbang-nimbang yang panjang ini justru menambah beban pikiran dan menunda kepastian," jelas Travers.
Kondisi ini berbeda dengan orang yang memiliki tingkat kepuasan lebih cepat.
"Sebaliknya, orang yang bisa cepat berpuas diri dengan opsi pertama yang memenuhi syarat kriteria mereka, justru lebih tenang dengan keputusannya, walau waktu yang dihabiskan untuk berpikir jauh lebih sedikit," lanjut dia.
2. Terlalu Mencemaskan Dampak Masa Depan
Otak individu cerdas terbiasa merumuskan skenario masa depan yang rumit. Kemampuan strategis ini memang berguna untuk jangka panjang, tetapi bisa membuat keputusan sepele sehari-hari terasa sangat berat.
Berdasarkan riset tahun 2023 yang berjudul Vulnerable maximizers: The role of decision difficulty, perbandingan alternatif yang berlebihan memicu kelebihan informasi. Hal tersebut membuat setiap pilihan terlihat sangat berisiko tinggi.
Akibatnya, penentuan pilihan yang seharusnya selesai dalam beberapa menit bisa tertunda hingga berjam-jam atau berhari-hari karena otak menganggapnya sebagai taruhan besar.
"Keputusan sepele seperti mau makan siang apa atau cat kamar warna apa bisa terasa seperti penentu masa depan. Pada akhirnya, proses ini cuma menguras energi pikiran dan emosional," ucap Travers.
3. Selalu Dibayangi Penyesalan Setelah Memilih
Bagi para pemikir kritis, beban mental tidak langsung hilang setelah keputusan diambil. Mereka cenderung tetap memantau alternatif lain dan meragukan efektivitas pilihan yang sudah berjalan.
"Mereka sangat sensitif terhadap masukan baru. Begitu ada informasi yang mengisyaratkan bahwa pilihan lain mungkin lebih menjanjikan, mereka langsung menyimpulkan bahwa langkah yang diambil sudah pasti salah," ujar Travers.
Siklus keraguan ini membuat mereka sulit untuk melangkah maju dengan mantap.
Cara Mengatasi Kelelahan Mental Akibat Pilihan
Kemajuan teknologi saat ini memang memudahkan manusia untuk membandingkan banyak hal, tetapi ketersediaan banyak opsi tidak selalu menghasilkan keputusan yang sehat. Obsesi pada kesempurnaan justru sering kali menghambat produktivitas dan memicu kelelahan mental.
Langkah terbaik untuk mengatasinya adalah dengan berhenti mencari hal yang paling sempurna. Seseorang cukup menetapkan pilihan pertama yang sudah memenuhi standar awal yang ditentukan.
Ketika tingkat keyakinan sudah mencapai 70 persen, keputusan tersebut sebaiknya segera diambil. Setelah tindakan dilakukan, hentikan semua pencarian alternatif lain dan fokuslah untuk menyukseskan pilihan yang telah diambil.