Dolar Singapura terus memperkuat posisinya terhadap berbagai mata uang utama sepanjang tahun 2026, termasuk dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah. Analis ekonomi melihat penguatan ini didorong oleh kondisi ekonomi Singapura yang stabil. Market watch menunjukkan bahwa dolar Singapura sedikit melemah 0,12% terhadap dolar AS dengan nilai tukar 0,7826 pada akhir Mei. Namun, selama enam bulan terakhir, dolar Singapura mengalami penguatan sebesar 1,44% dan secara tahunan naik 0,73% terhadap dolar AS.
Penguatan Terhadap Rupiah
Sementara itu, terhadap rupiah, dolar Singapura berada di posisi 14.000 pada akhir pekan ini dan berfluktuasi antara 13.925-14.017 dalam perdagangan harian. Selama setengah tahun terakhir, dolar Singapura telah naik 8,78% dan mencapai peningkatan tahunan sebesar 10,48% terhadap rupiah. Ibrahim Assuaibi, analis ekonomi dan mata uang, memperkirakan dolar Singapura dapat mencapai kisaran 15.000-16.000 terhadap rupiah, seiring kebijakan Bank Sentral Singapura yang mendukung penguatan mata uangnya.
Ibrahim juga mencatat situasi geopolitik di Timur Tengah, seperti penutupan Selat Hormuz, meningkatkan stabilitas nilai tukar Singapura. Kebijakan ini menjadi strategi mempertahankan stabilitas dan menahan inflasi impor. Singapura juga menjadi pusat aktivitas perdagangan, dengan penggunaan dolar Singapura yang signifikan dalam transaksi ekspor dan impor.
Kepercayaan Investor dan Stabilitas Politik
Ibrahim menambahkan bahwa Singapura memiliki daya tarik tersendiri bagi investor asing berkat ekonomi yang kuat dan stabilitas politik yang baik. Sistem hukum yang transparan dan status Singapura sebagai pusat keuangan di Asia membuat banyak perusahaan asing membuka cabang di negara tersebut. Dolar Singapura juga dianggap sebagai mata uang safe haven setelah dolar AS.
Peningkatan dolar Singapura ini juga berdampak positif bagi pariwisata Indonesia, karena mata uang yang kuat dapat menarik wisatawan dari Singapura untuk berkunjung.
Penguatan dan Prospek Dolar AS
Ekonom dari BCA, David Sumual, menyatakan bahwa setelah pandemi COVID-19, banyak modal asing yang mengalir ke Singapura dan Malaysia, yang juga sejalan dengan realokasi investasi dari China. Akibatnya, Indonesia mengalami defisit neraca pembayaran yang menyebabkan mata uangnya melemah.
David melihat bahwa pada saat yang bersamaan, Ringgit Malaysia dan dolar Singapura menguat terhadap dolar AS. CEO EMEA JPMorgan Asset Management, Patrick Thomson, memperkirakan dolar AS mungkin melemah dalam jangka panjang akibat tingginya tingkat utang AS, meski kini tetap menjadi aset safe haven.
Patrick memaparkan bahwa Amerika Serikat menghadapi dinamika fiskal yang mengakibatkan utang yang terus meningkat dalam jangka panjang. Di sisi lain, ia menganggap Eropa mungkin menyediakan tempat berlindung bagi aset yang aman karena situasi fiskal yang lebih terkendali.