Pemerintah Indonesia memutuskan untuk mendirikan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus yang menangani ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) strategis. Langkah taktis ini diambil demi mengatasi persoalan selisih data perdagangan antara Indonesia dengan negara-negara mitra dagang.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan penjelasan mengenai kebijakan tersebut di hadapan para pengusaha dari belasan asosiasi sektor pertambangan, energi, dan perkebunan. Ekspor komoditas strategis nantinya bakal dikendalikan lewat BUMN ekspor bernama Danantara Sumberdaya Indonesia.
Seperti dikutip dari Detik Finance, pembentukan badan usaha baru ini bertujuan memperketat pengawasan operasional sekaligus menekan risiko manipulasi nilai transaksi perdagangan atau missinvoicing.
"Kita tahu bahwa data ekspor Indonesia dan data impor dengan negara terkait itu ada perbedaan," ujar Airlangga dalam rapat dengan Asosiasi Pengusaha di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (21/5/2026).
Airlangga memaparkan bukti ketidaksesuaian pencatatan data tersebut, salah satunya dalam hubungan dagang dengan Amerika Serikat. Berdasarkan catatan di dalam negeri, Indonesia mengalami defisit perdagangan terhadap AS berkisar antara US$ 16 miliar hingga US$ 17 miliar. Kendati demikian, otoritas Amerika Serikat merilis angka yang jauh lebih tinggi, yakni menyentuh kisaran US$ 20 billion.
Anomali serupa ditemukan pada arus perdagangan dengan China. Airlangga menyebutkan nilai transaksi perdagangan bilateral versi Indonesia berada di angka US$ 110-115 miliar, sedangkan kalkulasi dari pihak China mendeteksi total perdagangan mencapai US$ 130-140 miliar.
"Nah oleh karena itu ini kita perlukan agar kita juga bisa mendorong stabilitas nilai tukar, pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi serta mendorong bargaining position ataupun nilai tawar Indonesia terhadap pasar-pasar di luar negeri," jelas Airlangga.
Selain menyelaraskan pencatatan data dan memperkuat posisi tawar di pasar global, kebijakan ini dirancang untuk menjaga stabilitas harga komoditas strategis nasional. BUMN ekspor tersebut bakal memfokuskan kendalinya pada tiga komoditas andalan Indonesia, meliputi batu bara, kelapa sawit, serta produk paduan besi.
"Tiga ekspor komoditi utama kita adalah batu bara, kelapa sawit dan ferro alloy. Ferro alloy itu paduan besi jadi ada feronikel, ada ferromolibdenum, dan yang lain," tutur Airlangga.