PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menyetujui pembagian dividen tahun buku 2025 sekitar US$ 450 juta, seperti dilansir dari Investor Daily berdasarkan ulasan Sinarmas Sekuritas pada Senin (25/5/2026).
ÔÇ£Dengan estimasi dividen final sebesar US$ 0,026 per saham atau sekitar Rp 453 per saham (estimasi yield 5,5%),ÔÇØ terang Sinarmas Sekuritas.
Sebelumnya, Stockbit Sekuritas melaporkan bahwa tanggal cum dividen beserta jadwal pembayaran dividen AADI akan segera diumumkan dalam waktu dekat.
AADI sendiri tercatat sudah membagikan dividen interim kepada para pemegang saham sebesar Rp 538 per saham pada November 2025 lalu.
Kabar mengenai pembagian keuntungan ini ikut memengaruhi pergerakan saham perusahaan di lantai bursa setelah sempat mengalami tren penurunan.
Saham AADI berbalik arah dengan loncat 5,79% ke Rp 8.225 pada perdagangan Jumat (22/5/2026) pekan lalu, setelah selalu memerah sejak 13 Mei-21 Mei 2026.
Meskipun sempat menguat pada akhir pekan lalu, dalam akumulasi sebulan terakhir performa saham Adaro Andalan Indonesia tercatat merosot sebesar 24,19%.
Lonjakan tiba-tiba saham AADI pada hari Jumat pekan lalu dipicu oleh rumor penundaan implementasi penuh kebijakan ekspor batu bara dan komoditas strategis yang dikendalikan negara hingga 1 Januari 2027.
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) setelah pasar tutup kemudian memberikan penjelasan mengenai bantahan dari pemerintah terkait isu penundaan regulasi ekspor tersebut.
"Tetap mulai 1 Juni 2026, secara bertahap," tegasnya, Jumat (22/5/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto untuk meluruskan kabar burung yang beredar di pasar mengenai skema ekspor komoditas strategis via DSI.