Willy Aditya Bantah Isu Perpecahan Internal di Partai NasDem

Willy Aditya Bantah Isu Perpecahan Internal di Partai NasDem
Foto: Ilustrasi Willy Aditya Bantah Isu Perpecahan Internal di Partai NasDem.

Ketua DPP Partai NasDem, Willy Aditya, membantah kabar adanya gejolak internal yang memaksa Ketua Umum Surya Paloh mendekati Presiden Prabowo Subianto demi mengamankan posisi partai pada Senin (20/4/2026). Spekulasi ini mencuat setelah sejumlah elit dikabarkan meninggalkan partai tersebut.

Kabar ketidakharmonisan di dalam tubuh NasDem mulai beredar luas menyusul perpindahan Ahmad Ali ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Dilansir dari Nasional, Ali disebut-sebut tidak hanya pindah sendirian, tetapi juga mengajak tokoh penting lain seperti Rusdi Masse untuk keluar dari struktur NasDem.

"Kalau kita utak atik gatuk lalu kemudian itu diambil sebagai sebuah konklusi (mencari bantuan), bisa aja," kata Willy Aditya, Ketua DPP Partai NasDem.

Willy memberikan pembelaan terkait dinamika yang terjadi di lingkungan internalnya. Menurut penegasannya, setiap organisasi politik di Indonesia pasti memiliki masalah masing-masing sehingga perpindahan kader dianggap sebagai hal yang lumrah dalam berpolitik.

"Tapi saya mau tanya, emang ada di republik ini partai yang tidak bermasalah? Apakah partai yang katanya mau nyomot nyomot NasDem itu tidak bermasalah juga di dalam?" kata Willy Aditya.

Selain menepis isu perpecahan, Ketua Komisi XIII DPR RI ini juga memberikan penjelasan mengenai kedekatan antara partainya dengan Gerindra. Ia memastikan bahwa komunikasi intensif antara Surya Paloh dan Prabowo Subianto tidak berkaitan dengan rencana penggabungan atau merger kedua partai tersebut.

"Kita tanya, kita masih dalam mimpi yang sama atau tidak kita harus periksa itu, kenapa, kita inflasi politisi, kita defisit negarawan," kata Willy Aditya.

Relasi yang terbangun menurutnya didasari oleh kedekatan personal sebagai sesama mantan tokoh Partai Golkar. Willy menilai publik seharusnya tidak mencurigai komunikasi antar tokoh bangsa sebagai transaksi kepentingan politik praktis semata.

"Artinya semua proses politik tidak harus disubstitusi dengan dagang sapi. Ini baru obrolan antar kawan antar teman ya itu sudah dicurigai ya," kata Willy Aditya.

Artikel terkait

Rekomendasi