PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) merombak susunan direksi serta komisaris dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) tahun buku 2025 pada Senin (11/5/2026) di Jakarta. Langkah ini diambil di tengah proses penyehatan perseroan yang diiringi dengan perbaikan sejumlah indikator keuangan sepanjang tahun lalu.
Pemulihan kinerja perseroan memperlihatkan hasil positif yang ditandai oleh peningkatan gross profit margin (GPM) dari 7,9 persen pada 2024 menjadi 8,5 persen pada 2025, sebagaimana dilansir dari Investortrust. Selain itu, emiten konstruksi pelat merah ini sukses mengamankan kontrak baru senilai Rp17,46 triliun.
Penurunan liabilitas dan penagihan piutang juga menunjukkan perkembangan signifikan bagi struktur modal perusahaan. Realisasi penggunaan dana penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu II (PMHMETD II) dan tambahan penyertaan modal negara (PMN) tercatat telah mencapai Rp5,7 triliun dari total Rp6,08 triliun.
Dalam rapat tersebut, pemegang saham menyetujui delapan mata acara, termasuk pengesahan laporan keuangan konsolidasian dan perubahan anggaran dasar. RUPST kemudian mengesahkan pergantian Direktur Utama dari Agung Budi Waskito kepada I Ketut Pasek Senjaya Putra, serta mengangkat Mulyadi sebagai Direktur Keuangan menggantikan Sumadi.
Posisi Direktur Manajemen Risiko dan Legal kini dijabat oleh Vera Kirana yang menggantikan Fafan Khoirul Fanani. Sementara pada jajaran Dewan Komisaris, Apri Artoto resmi ditetapkan sebagai Komisaris Utama menggantikan Jarot Widyoko.
ÔÇ£Perseroan juga membukukan penurunan utang usaha sebesar Rp1,79 triliun dan utang berbunga sebesar Rp2,08 triliun. Selain itu, nilai piutang berhasil ditekan Rp1,89 triliun menjadi Rp4,58 triliun,ÔÇØ jelas manajemen WIKA.
Secara keseluruhan, penjualan perseroan pada tahun buku 2025 tercatat sebesar Rp20,44 triliun dengan total aset mencapai Rp50,15 triliun. Manajemen menegaskan komitmennya untuk melanjutkan penguatan finansial melalui restrukturisasi komprehensif, divestasi aset non-core, serta peningkatan operational excellence.
ÔÇ£Upaya tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas keuangan dan arus kas sebagai fondasi keberlanjutan kinerja perseroan. Adapun divestasi dilakukan secara selektif terhadap aset non-core yang dinilai memiliki potensi nilai tambah bagi Perusahaan,ÔÇØ papar manajemen WIKA.
ÔÇ£Upaya tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas keuangan dan arus kas sebagai fondasi keberlanjutan kinerja perseroan. Adapun divestasi dilakukan secara selektif terhadap aset non-core yang dinilai memiliki potensi nilai tambah bagi Perusahaan,ÔÇØ papar manajemen WIKA.
Perubahan pengurus dan strategi pemulihan ini diharapkan mampu memperkuat tata kelola serta transparansi perusahaan. Langkah transformasi bisnis dijalankan guna mendukung keberlangsungan usaha WIKA dalam menghadapi dinamika industri konstruksi nasional yang kompetitif.