Wilayah Jabodetabek tengah dilanda cuaca panas ekstrem dengan tingkat curah hujan minim yang meningkatkan risiko gangguan fisik bagi masyarakat. Dilansir dari Lifestyle pada Selasa (28/4/2026), para ahli kesehatan menekankan pentingnya menjaga kecukupan cairan tubuh untuk menghadapi suhu tinggi guna menghindari kondisi fatal seperti serangan panas.
Kunci utama menghadapi sengatan matahari adalah tidak menunda asupan cairan hingga tubuh merasa haus. Selain air putih, minuman olahraga direkomendasikan untuk mengganti elektrolit yang hilang melalui keringat, sementara minuman berkafein sebaiknya dihindari karena berpotensi memperburuk kondisi dehidrasi.
"Jangan menunggu sampai haus untuk minum cairan, karena rasa haus mungkin merupakan tanda awal dehidrasi," ujar dr. Christopher Bryczkowski, melansir Prevention, Selasa (28/4/2026).
Pemantauan status hidrasi secara mandiri dapat dilakukan dengan melihat warna urine secara kasatmata untuk memastikan kecukupan cairan. Warna kuning pucat dianggap ideal, namun masyarakat diminta waspada agar tidak mengonsumsi air secara berlebihan hingga menyebabkan urine berwarna bening.
"Urine yang bening dapat menandakan hidrasi berlebih, yang membawa risikonya sendiri berupa penurunan kadar natrium yang berbahaya," tutur dr. Bryczkowski.
Selain hidrasi, penggunaan pakaian berbahan ringan dan longgar sangat disarankan untuk mendukung sirkulasi udara pada kulit. Dr. Bryczkowski menambahkan bahwa kelembapan tinggi dapat menghambat sistem pendinginan alami tubuh.
"Saat kelembapan semakin tinggi, kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri melalui keringat menjadi berkurang sehingga rentan terhadap bahaya serangan panas," sambung dr. Bryczkowski.
Dr. Riana R. Pryor menjelaskan bahwa mekanisme keringat berfungsi melepaskan panas tubuh ke udara sekitar. Namun, efektivitas proses ini sangat bergantung pada jenis pakaian yang dikenakan oleh seseorang saat beraktivitas di bawah terik matahari.
"Namun, jika pakaian terlalu tebal atau tidak memungkinkan udara menyentuh kulit, keringat hanya akan menetes tanpa mendinginkan tubuh, sehingga berisiko menyebabkan dehidrasi tanpa manfaat pendinginan," ucap dr. Riana R. Pryor.
Paparan panas dalam durasi lama juga berdampak sistemik pada organ vital, terutama jantung yang harus bekerja lebih berat. Dr. Pryor menyebutkan beban kerja jantung meningkat karena harus memompa darah ke otot sekaligus ke permukaan kulit untuk proses pendinginan.
"Jantung bekerja keras untuk memompa darah ke organ dan otot mereka seperti biasa, tetapi juga beban tambahan karena membutuhkan darah di dekat kulit untuk berkeringat dan mendinginkan diri," ujar dr. Riana R. Pryor.
Kondisi stres tambahan akibat panas ini dapat membebani berbagai sistem tubuh lainnya secara bersamaan. Dr. Conroy menegaskan bahwa risiko kesehatan tidak terbatas pada kulit, melainkan mencakup organ-organ dalam yang krusial.
"Paparan panas yang berkepanjangan menyebabkan stres tambahan pada tubuh yang dapat membebani banyak sistem tubuh termasuk jantung, otak, dan ginjal," tambah dr. Conroy.
Gejala seperti sakit kepala, mual, kebingungan, dan keringat berlebih menjadi indikasi awal serangan panas yang memerlukan penanganan segera. Masyarakat diminta segera menuju tempat teduh atau fasilitas medis jika keluhan tersebut muncul setelah terpapar suhu ekstrem.