PT Waskita Karya (Persero) Tbk berhasil memangkas total utang perusahaan menjadi Rp 67,1 triliun pada tahun 2025 sebagai hasil dari konsistensi proses restrukturisasi keuangan dan operasional. Pencapaian ini diumumkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang digelar di Jakarta pada Jumat (08/05/2026).
Dilansir dari Kompas, emiten konstruksi berkode WSKT ini mengantongi pendapatan usaha senilai Rp 8,82 triliun. Meskipun menghadapi tantangan, perseroan mampu membukukan pertumbuhan laba bruto sebesar 12 persen menjadi Rp 1,58 triliun dari posisi sebelumnya yang sebesar Rp 1,41 triliun.
Sekretaris Perusahaan Waskita Karya, Ermy Puspa Yunita, menjelaskan bahwa manajemen terus mengupayakan perbaikan performa sejak dimulainya fase restrukturisasi tiga tahun silam. Salah satu fokus utama adalah implementasi kesepakatan restrukturisasi induk atau Master Restructuring Agreement (MRA).
"Strategi penyehatan keuangan konsisten dilakukan melalui implementasi MRA (Master Restructuring Agreement). Sejak restrukturisasi tersebut efektif di tahun 2024 sampai dengan Desember 2025, Waskita Karya telah berhasil menurunkan nilai outstanding utang MRA semula Rp 26,2 triliun menjadi Rp 24,1 triliun," kata Ermy.
Penurunan beban keuangan juga menjadi sorotan setelah adanya kesepakatan dengan 21 bank pada tahun 2024. Waskita mencatat beban keuangan menyusut dari Rp 4,34 triliun menjadi Rp 4,00 triliun, sementara utang kepada vendor yang telah jatuh tempo (past due) turun drastis sebesar 96,1 persen menjadi Rp 63,4 miliar.
Pihak manajemen juga melaporkan penyelesaian seluruh kewajiban pajak yang tertunda sehingga perusahaan tidak lagi memiliki tunggakan pajak per 2024. Terkait instrumen keuangan lainnya, perseroan telah mengalokasikan Rp 707 miliar untuk pembayaran kupon dua seri obligasi dan satu sukuk hingga akhir 2025.
Ekspansi bisnis perusahaan menunjukkan tren positif melalui raihan Nilai Kontrak Baru (NKB) yang mencapai Rp 12,52 triliun pada 2025. Angka ini mencerminkan kenaikan signifikan dibandingkan perolehan periode sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 9,5 triliun.
"Dengan keputusan ini, kami optimistis dapat memperkuat kinerja dan daya saing perusahaan. Kombinasi strategi digital dan konektivitas global diharapkan mampu mendongkrak kinerja bisnis dan memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional," ujar Ermy.
Dalam pertemuan tahunan tersebut, para pemegang saham sepakat untuk mempertahankan susunan jajaran direksi serta komisaris yang ada saat ini guna menjaga keberlanjutan strategi bisnis perusahaan.