Pemegang saham Warner Bros. Discovery (WBD) secara resmi menyetujui rencana penggabungan usaha senilai 110 miliar dollar AS dengan Paramount Skydance pada Rabu (23/4/2026). Langkah strategis ini bertujuan menciptakan entitas media global baru yang mampu bersaing ketat di pasar layanan streaming.
Kesepakatan besar yang setara dengan Rp1.892 triliun tersebut menjadi babak baru bagi kedua perusahaan setelah melalui proses negosiasi yang kompetitif, sebagaimana dilansir dari Money. Meski mendapat persetujuan mayoritas, nilai saham Paramount dilaporkan sempat mengalami tekanan sesaat setelah pengumuman hasil rapat umum pemegang saham tersebut dilakukan.
Pihak manajemen menyatakan bahwa hasil sementara pemungutan suara menunjukkan dukungan luas dari para investor terhadap konsolidasi ini. David Zaslav, CEO Warner Bros. Discovery, menegaskan posisi penting keputusan tersebut bagi masa depan perusahaan.
"persetujuan ini sebagai langkah krusial menuju penyelesaian transaksi bersejarah yang diharapkan memberikan nilai tambah bagi pemegang saham." kata David Zaslav, CEO Warner Bros. Discovery.
Transaksi ini masih membutuhkan lampu hijau dari pihak otoritas pengatur persaingan usaha sebelum dapat diresmikan sepenuhnya. Manajemen menargetkan seluruh proses administratif dan regulasi rampung pada kuartal III 2026.
Lahirnya raksasa baru ini diprediksi akan mengubah peta persaingan layanan Over-the-Top (OTT) secara global dengan menyatukan konten dari HBO Max dan Paramount+. Berbagai judul populer milik kedua perusahaan akan berada dalam satu naungan ekosistem hiburan yang sama.
"kombinasi ini akan melahirkan perusahaan media dan hiburan generasi baru." ujar David Zaslav, CEO Warner Bros. Discovery.
Laura Martin, seorang analis dari Needham, memproyeksikan bahwa perusahaan hasil merger ini akan mengantongi sekitar 200 juta pelanggan streaming bruto. Angka tersebut menempatkan entitas baru ini sebagai pesaing terdekat Netflix di posisi puncak industri.
"Ia menilai perusahaan hasil merger tidak lagi mengoperasikan beberapa layanan OTT kelas menengah, melainkan satu platform global yang lebih kompetitif dalam hal waktu konsumsi pengguna, kekuatan harga, dan monetisasi iklan." papar Laura Martin, Analis Needham.
Sebelum kesepakatan ini tercapai, Netflix sempat memenangkan penawaran awal senilai 83 miliar dollar AS untuk mengakuisisi Warner Bros. Namun, Paramount Skydance berhasil mengambil alih posisi tersebut dengan mengajukan tawaran harga saham yang lebih tinggi serta komitmen biaya terminasi.
Di sisi lain, batalnya akuisisi oleh Netflix justru memberikan kepastian bagi para pemodal di perusahaan pionir streaming tersebut. Fokus investor kini kembali pada penguatan bisnis inti dan pengembangan sektor periklanan digital.
"prospek Netflix menjadi lebih jelas karena investor kembali fokus pada fundamental inti dan potensi pengembangan bisnis iklan bernilai lebih dari dari 10 miliar dollar AS dalam jangka panjang." kata Brian J. Pitz, Analis BMO.