Warga di Jalan H Djairi, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, masih menghadapi krisis air bersih dari layanan perpipaan PAM Jaya pada Selasa (14/4/2026). Kondisi air yang mengalir ke pemukiman padat penduduk tersebut dilaporkan sering kali berwarna hitam, keruh, serta mengeluarkan aroma tidak sedap menyerupai air selokan.
Masalah kualitas air ini telah berlangsung selama bertahun-tahun meski mayoritas penduduk setempat bergantung pada layanan tersebut. Dilansir dari Megapolitan, aliran air kerap mati total pada waktu pagi hingga malam hari, sehingga warga terpaksa begadang untuk menampung air bersih saat tengah malam.
Nurliana Sihombing, warga yang telah menetap selama 30 tahun, mengungkapkan bahwa masalah air kotor ini sudah dirasakan sejak awal dirinya berlangganan puluhan tahun lalu.
"Ya, enggak belakangan, dari dulu. Kita pertama kali masang kan bagus tuh, bening. Enggak berapa bulan, enggak keluar sama sekali, sampai sekarang selalu begitu. Nah, ke sini-ke sini, airnya kadang kayak susu, kadang kayak kopi warnanya, bau banget. Kayak bau got," ungkap Nurliana.
Nurliana menambahkan bahwa kondisi air baru akan membaik dan mengalir dengan debit yang deras hanya pada dini hari.
"Herannya kita kenapa malam bagus banget airnya. Sekitar jam 01.00 sampai jam 04.30 WIB itu selalu bagus, setiap hari. Tapi kadang mau subuh itu juga udah bau airnya, sudah bau busuk," keluh Nurliana.
Akibat jadwal aliran air yang tidak menentu, ia harus menyediakan banyak wadah penampung di rumahnya agar tetap bisa memenuhi kebutuhan mandi dan memasak.
"Iya, kita bangun jam dua, jam tiga malam gitu buat ngisi air. Jadi kita sudah punya penampungan kayak ember berapa biji gitu. Terpaksa, habis kita kalau enggak begitu enggak punya air," kata Nurliana.
Selain masalah kualitas, Nurliana juga harus menanggung beban biaya listrik tambahan karena air tidak akan mengalir ke dalam rumah tanpa bantuan mesin pompa.
"Masalahnya tuh sebenernya enggak bayar itu doang, tapi kan bayar listrik juga. Karena air di sini enggak bisa ngalir kalau enggak pakai mesin pompa sanyo, jadi nambah lagi tagihan listriknya gede," ucap Nurliana.
Warga lain bernama Tikno menyebutkan bahwa air yang keluar pada siang dan sore hari biasanya berwarna keruh seperti air kali.
"Wah, sudah dari dulu, sudah lama itu. Jadi PAM ini kalau kadang-kadang kita merasa rugi juga. Padahal PAM kita sedot pakai listrik. Nah itu baru bisa keluar, yang keluar malah air kotor tapi," ujar Tikno.
Ketua RT 05 RW 02, Eka, menjelaskan bahwa beberapa warga akhirnya menyerah dan kembali menggunakan air tanah meskipun harus melakukan pengeboran ulang.
"Pas nyolokin, hidupinnya, dapet seember dua ember bagus kan airnya. Ke sananya giliran lagi ditampung entar tahu-tahu airnya sudah kecampur sama yang kotor, jadi bau semua gitu," jelas Eka.
Eka sendiri mengaku sudah memutus sambungan PAM di rumahnya setelah merasa sangat dirugikan ketika air kotor memenuhi tangki penampungannya.
"Itu tengah malam buka kran biar nampung di toren, eh pas dibuka, Ya Allah kok hitam, bau got. Mana hampir penuh itu, tingginya seleher saya, masa mau dikuras, gimana? Padahal udah kehitung di meteran itu airnya," ucap Eka.
Eka menegaskan bahwa pengecekan oleh petugas sering dilakukan setelah adanya laporan warga, namun solusi permanen tidak kunjung ditemukan.
"Ditanya kenapa alasannya, 'Mungkin ada kebocoran pas betulin jalan atau bagaimana' begitu jawabannya. Tapi sampai sekarang enggak benar-benar. Cuma sering dikontrol di depan sana tuh, sering dibongkar-bongkar tapi tetap saja masih (kotor)," ungkap Eka.
Hingga saat ini, warga di Jalan H Djairi masih menantikan langkah nyata dari pihak penyedia air untuk memperbaiki sistem perpipaan di wilayah mereka.
"Ya mudah-mudahan PAM itu dibenerin lah di mana. Maksudnya anehnya kan kenapa kayak ada waktu-waktunya gitu lho nyalanya, padahal kita kan pakainya bayar, di situ saja kita heran," ujar Nurliana.