Pasar saham Amerika Serikat atau Wall Street mencatatkan performa gemilang pada penutupan perdagangan Rabu (6/5/2026) waktu setempat. Kenaikan ini dipicu oleh optimisme investor terhadap sektor kecerdasan buatan (AI) serta mendinginnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Indeks S&P 500 dan Nasdaq berhasil menembus rekor penutupan tertinggi sepanjang sejarah. Pencapaian ini dilansir dari Money, mencerminkan kepercayaan pasar terhadap pertumbuhan laba korporasi teknologi di tengah stabilitas ekonomi AS.
Berdasarkan data Reuters pada Kamis (7/5/2026), indeks S&P 500 mengalami kenaikan 1,46 persen menuju level 7.365,09. Sementara itu, Nasdaq Composite melesat 2,03 persen ke angka 25.838,94 dan Dow Jones Industrial Average terangkat 1,24 persen ke posisi 49.910,59.
Volume transaksi di bursa AS mencapai 18,8 miliar saham, angka yang melampaui rata-rata harian 20 sesi terakhir sebesar 17,6 miliar saham. Sektor industri dan teknologi informasi menjadi motor utama dengan masing-masing tumbuh 2,6 persen dan 2,56 persen.
Sepanjang tahun 2026, reli Wall Street terlihat sangat solid dengan penguatan S&P 500 hampir 8 persen dan Nasdaq yang melonjak sekitar 11 persen. Salah satu pemicu utama adalah lonjakan saham Advanced Micro Devices (AMD) sebesar 19 persen.
Lonjakan AMD terjadi setelah perusahaan memberikan proyeksi pendapatan melampaui ekspektasi pasar akibat tingginya permintaan chip pusat data untuk teknologi AI. Hal ini turut mendongkrak saham Intel sebesar 4,5 persen.
Indeks semikonduktor PHLX juga menguat 4,5 persen, mencatatkan pertumbuhan kumulatif sekitar 62 persen sepanjang tahun 2026. Saham Nvidia pun ikut terkerek naik sebesar 5,7 persen pada sesi perdagangan yang sama.
Di sektor lain, saham Hut 8 meroket 35 persen pasca penandatanganan kontrak sewa kampus pusat data di Texas senilai 9,8 miliar dollar AS. Saham Corning juga menguat berkat kemitraan strategis dengan Nvidia untuk produk konektivitas optik.
Kondisi geopolitik yang membaik turut memberi angin segar setelah Iran menyatakan sedang meninjau proposal penyelesaian konflik dari AS. Kabar ini membuat harga minyak mentah Brent merosot 8 persen menjadi 101 dollar AS per barel.
Penurunan harga minyak dinilai efektif meredam kecemasan investor terhadap tekanan inflasi global. Fokus pasar kini beralih pada laporan keuangan kuartal pertama yang menunjukkan hasil lebih kuat dari perkiraan analis.
Data LSEG I/B/E/S menunjukkan lebih dari 80 persen anggota S&P 500 yang sudah melapor kinerja hingga 1 Mei berhasil melampaui ekspektasi laba. Senior Portfolio Manager Globalt Investments, Thomas Martin, memberikan pandangannya mengenai situasi ini.
"Ekonomi berjalan dengan baik. Tidak ada tanda-tanda bahaya nyata yang mendekati penurunan. Dan dengan latar belakang itu, Anda harus memiliki saham," ujar Thomas Martin.
Laporan ketenagakerjaan swasta AS pada April 2026 mencatatkan peningkatan terbesar dalam 15 bulan terakhir. Meski pasar tenaga kerja stabil, investor tetap menantikan data non-farm payrolls yang dijadwalkan rilis Jumat mendatang.
Presiden Federal Reserve St. Louis, Alberto Musalem, memperingatkan risiko inflasi yang lebih tinggi tetap ada. Hal ini membuka kemungkinan suku bunga tetap berada di level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Sektor hiburan dan transportasi juga mencatatkan hasil positif. Saham Walt Disney naik 7,5 persen berkat kinerja kuartal kedua yang apik, sementara Uber Technologies menguat 8,5 persen setelah memproyeksikan pertumbuhan pemesanan yang kuat.
Terakhir, saham Super Micro Computer melonjak 24,5 persen. Kenaikan tersebut didorong oleh revisi naik pada proyeksi pendapatan dan laba perusahaan untuk kuartal keempat tahun ini.