Cangkul Pengganti Senjata: Transformasi Gen Z Rawa Malang

Cangkul Pengganti Senjata: Transformasi Gen Z Rawa Malang
Foto: Ilustrasi Cangkul Pengganti Senjata: Transformasi Gen Z Rawa Malang.

Di tengah teriknya matahari, setiap pulang sekolah Gen Z di RT 06, RW 10, Rawa Malang, Semper Timur, Jakarta Utara, tak lagi berkumpul di sudut gang untuk tawuran seperti dulu.

Mereka justru bergegas menuju kebun kecil di sela permukiman yang berada di samping kolong tol Cibitung-Cilincing. Dengan celana putih sekolah yang masih menempel, tiga orang Gen Z terlihat masuk ke lahan urban farming seluas 1,5 hektare bernama Bangun Karya Mandiri. Mereka terlihat berduduk santai sambil bercengkrama satu sama lain, sekaligus bertukar pikiran dengan Ketua Kelompok Tani Bangun Karya Mandiri Dwi Angga Mukti (26).

Setelah beristirahat sebentar untuk melepas lelah pulang sekolah, para Gen Z tersebut langsung mengambil air dari kolam buatan dengan menggunakan gembor air berwarna hijau. Terik matahari yang menyengat kulit, tak menyurutkan semangat mereka untuk menyiram tanaman hijau seperti kangkung, kemangi, sawi, cabai, dan lain sebagainya yang mulai bertumbuh.

Salah satu Gen Z bernama Fajar Aryanto (15) mengaku mulai terlibat mengurus urban farming sejak tahun 2024, karena diajak oleh Angga. Dulunya, Fajar cukup aktif melakukan tawuran. Hampir setiap pekan ia beradu dengan musuh tawuran.

"Dulu mah suka tawuran, sekarang sudah enggak" kata Fajar ketika diwawancarai Kompas.com di lokasi, Selasa (27/4/2026).

Namun, ia pensiun dari kegiatan tersebut usai diajak bercocok tanam di lahan urban farming beberapa tahun lalu. Setiap pulang sekolah, Fajar kini lebih suka menghabiskan waktu di kebun bersama rekan-rekannya. Berbeda dengan dulu yang lebih sering nongkrong dan berujung tawuran setiap pulang sekolah. Menurut dia, mengurus kebun di tengah kota memang tidak mudah dan melelahkan, namun membuatnya ketagihan.

"Karena asyik, bisa bareng-bareng kawan nyiram gitu" kata Fajar ketika diwawancarai Kompas.com di lokasi, Selasa (27/4/2026).

Tak hanya menyiram, Fajar dan teman-temannya juga ikut menanam, memberi pupuk, dan membersihkan kebun setiap hari. Di sisi lain, adanya urban farming membuat Fajar dan teman-temannya jarang nongkrong di luar dan fokus melakukan kegiatan positif lewat berkebun. Gen Z itu juga merasa senang dengan terlibat bercocok tanam, bisa mendapatkan uang jajan tambahan, meski nominalnya tak menentu setiap bulan. Namun setidaknya, penghasilan tersebut bisa digunakan untuk membeli es dan makan bersama-sama dengan temannya di kebun.

Meski tambahan uang jajannya tak seberapa, Fajar mengaku senang karena banyak pelajaran yang bisa dipetik selama ikut mengurus urban farming. Salah satunya adalah memahami tata cara bercocok tanam yang benar agar bisa tumbuh dan menghasilkan. Fajar juga mulai menerapkan ilmu bercocok tanamnya itu di rumahnya sendiri.

"Kadang menanam cabai, terong, sama tomat" kata Fajar.

Meredam Konflik Melalui Akar Tanaman

Ketua Kelompok Tani Bangun Karya Mandiri RW 10 Semper Timur Dwi Angga Mukti (26) bercerita, keputusannya bersama Ketua RT setempat bernama Ahmad Saddam (35) membangun urban farming karena merasa resah. Sebab dulu, lahan yang berada persis di samping kolong tol itu merupakan sisa pembangunan Waduk Rawa Malang di tahun 2023. Lahan yang terbengkalai tersebut sempat menjadi tempat pembuangan sampah (TPS) warga dan lokasi favorit tawuran.

Merasa lingkungan tempat tinggalnya terancam, Angga dan Saddam akhirnya menggencarkan aktivitas urban farming di lokasi tersebut. Ia berharap, aktivitas urban farming itu menjadi kegiatan positif untuk anak muda sekitar.

"Biar ada kegiatan kan. Kalau enggak ada kegiatan, mereka mencari kegiatan sendiri seperti tawuran. Dengan urban farming kan jadinya enggak tawuran" jelas Angga ketika diwawancarai di lokasi, Selasa.

Berjalan hampir dua tahun, Angga menilai lahan urban farming tersebut efektif meredam tawuran di lingkungannya. Anak-anak muda yang biasa tawuran di lokasi ini, digandeng oleh Angga untuk sama-sama berkebun setiap harinya. Di sisi lain, lingkungan tempat tinggalnya juga menjadi bersih, karena tak ada lagi yang membuang sampah sembarangan.

Transformasi Sosial dan Dukungan Berkelanjutan

Pakar Lingkungan dari Universitas Indonesia Mahawan Karuniasa menilai, perubahan lahan bekas tempat sampah menjadi urban farming adalah contoh pemulihan fungsi ruang kota.

"Saya melihat ini bukan sekadar kegiatan bercocok tanam, tetapi transformasi sosial-ekologis. Lahan yang sebelumnya menjadi titik sampah dan ruang konflik sosial berubah menjadi ruang produktif, ruang edukasi, dan ruang kolaborasi warga" ucap Mahawan ketika dihubungi Kompas.com, Selasa.

Dalam perspektif lingkungan kota dinilai sebagai bentuk nature-based solution skala komunitas. Lahan terlantar dipulihkan menjadi ruang hijau yang menghasilkan pangan, memperbaiki mikroklimat, mengurangi kesan kumuh, dan membangun rasa memiliki terhadap lingkungan. Food and Argiculture Organization (FAO), kata Mahawan, menekankan bahwa pertanian kota tidak hanya berkaitan dengan produksi pangan, tetapi juga jasa ekosistem, penghidupan, dan inklusi sosial. Konsistensi Gen Z terjun ke dunia urban farming ini dinilai harus didukung oleh pemerintah atau pihak swasta melalui legalitas lahan, keamanan pangan, dan keberlanjutan ekonomi.

"Pemerintah perlu memastikan izin pemanfaatan lahan, pendampingan teknis dari penyuluh, uji tanah, air, pangan secara berkala, bantuan benih dan media tanam aman, akses kompos berkualitas, pelatihan pascapanen, serta koneksi ke pasar lokal" jelas Mahawan.

Kepala Suku Dinas Ketahan Pangan, Kelautan, dan Perikanan (KPKP) Jakarta Utara Novy Christine Palit, memastikan berbagai bentuk pembinaan dan dukungan sudah diberikan ke para pelaku urban farming. Bahkan, Sudin KPKP Jakarta Utara lah yang membentuk Kelompok Tani Bangun Karya Mandiri tersebut di tahun 2025.

"Kemudian, kita juga memberikan bantuan sarana dan prasarana urban farming, seperti rak hidroponik, benih, pupuk, dan lain sebagainya" ujar Novy ketika dihubungi, Selasa.

Dinas KPKP Jakarta juga melakukan berbagai strategi agar lebih banyak Gen Z yang mau berkecimpung di dunia urban farming melalui pemanfaatan teknologi dan digitalisasi. Gen Z juga didorong untuk mengemas kegiatan urban farming dengan konten visual dan media sosial.

"Kami juga mendorong untuk digital marketing, mengenalkan inovasi metode dalam urban farming seperti hodroponik, vertical garden, kultur jaringan dan membuka peluang bisnis dengan kolaborasi" ucap Novy ketika dihubungi Kompas.com, Selasa.

Artikel terkait

Rekomendasi