Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) menyangkal tudingan Iran yang menyebut negara Teluk tersebut terlibat dalam agresi militer bersama Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (16/5/2026). Dilansir dari Investor Daily, otoritas UEA menyatakan bahwa tuduhan tersebut sama sekali tidak berdasar serta mengada-ada.
Sikap resmi tersebut diutarakan oleh Menteri Negara di Kementerian Luar Negeri UEA Khalifa bin Shaheen Al Marar. Penegasan ini disampaikan sewaktu dirinya mendatangi pertemuan tingkat Menteri Luar Negeri negara-negara anggota BRICS di New Delhi, India.
Pihak kementerian menegaskan posisi menolak segala bentuk tuduhan dari pihak luar demi menjaga kedaulatan politik mereka.
"Yang Mulia menegaskan penolakan sepenuhnya dari UEA atas tuduhan Iran tersebut," bunyi pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri UEA seperti dikutip Sputnik, Sabtu (16/5/2026).
Melalui perwakilan diplomatiknya, UEA juga menolak intimidasi asing terhadap kebijakan internal maupun eksternal negara. Negara Teluk ini menyatakan kesiapannya untuk mengambil tindakan hukum dan militer apabila kedaulatannya diganggu oleh pihak luar.
"UEA memiliki hak kedaulatan, hukum, diplomatik, dan militer secara penuh untuk merespons ancaman, tuduhan, atau tindakan permusuhan apa pun," tegas Al Marar.
Keretakan hubungan diplomatik dua negara bertetangga ini meruncing pasca-pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Kamis (14/5/2026). Araghchi menduga UEA membiarkan pangkalan militernya dipakai oleh pasukan sekutu untuk menggempur Iran dalam operasi militer asing pada akhir Februari 2026.
Krisis geopolitik di kawasan tersebut bermula ketika serangan udara masif diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026. Meskipun gencatan senjata temporer sudah disepakati pada 7 April 2026, situasi di Timur Tengah belum sepenuhnya mereda.