Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan tegas bahwa Israel tidak pernah merayu atau membujuk dirinya untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran. Pernyataan yang dilansir dari Kompas tersebut disampaikan pada Senin (20/4/2026) melalui media sosial pribadinya menjelang berakhirnya masa gencatan senjata antara Teheran dan Washington.
Trump menjelaskan bahwa motivasi utama di balik sikap agresifnya adalah keyakinan mendalam bahwa Iran tidak boleh memiliki kapasitas senjata nuklir. Mantan Presiden AS itu menyebutkan bahwa insiden serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober menjadi titik balik yang memperkuat keputusannya terkait program nuklir Iran.
"Israel tidak pernah membujuk saya untuk berperang dengan Iran," tulis Trump di media sosial Truth, Senin (20/4/2026).
Tokoh politik Amerika Serikat itu menilai situasi keamanan regional telah memberikan alasan yang cukup kuat bagi kebijakannya. Ia menolak anggapan adanya intervensi pihak asing dalam pengambilan keputusan militernya terhadap pemerintahan Iran.
"Hasil, 7 Oktober (serangan Hamas ke Israel), yang menambah keyakinan saya seumur hidup bahwa Iran tak akan pernah memiliki senjata nuklir, justru yang membujuk saya," tambahnya.
Selain membahas isu keamanan, Trump menuding adanya upaya penyesatan informasi yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu mengenai situasi politik saat ini. Ia mengkritik para pakar yang dianggapnya menyebarkan narasi palsu serta mempertanyakan kredibilitas hasil jajak pendapat di media televisi.
"Dan jika para pemimpin baru Iran (Perubahan Rezim!) cerdas, Iran dapat memiliki masa depan yang hebat dan Makmur," tutupnya.
Kondisi di kawasan Timur Tengah saat ini dilaporkan kian memanas seiring dengan insiden penyerangan kapal Iran oleh militer Amerika Serikat. Kapal tersebut diduga mencoba menembus blokade laut yang diterapkan Washington di pelabuhan-pelabuhan Iran.
Situasi ini berdampak langsung pada kelanjutan proses diplomasi kedua negara yang sebelumnya direncanakan berlangsung di Pakistan. Pihak Iran secara resmi menyatakan keberatannya untuk menghadiri perundingan damai tersebut menyusul adanya eskalasi militer di wilayah perairan.