Banyak orang memilih tetap mengalokasikan dana untuk kenyamanan personal di tengah tekanan ekonomi serta peningkatan biaya hidup. Kebiasaan membeli barang kecil seperti produk fesyen, parfum, skincare, hingga nongkrong di kafe kini semakin marak pada berbagai kalangan.
Fenomena ini disebut sebagai lipstick effect, seperti dilansir dari Lifestyle. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika masyarakat tetap berbelanja barang atau pengalaman yang memberikan kepuasan emosional meskipun situasi finansial sedang tidak menentu.
Tren tersebut mengemuka ketika masyarakat mulai membatasi pengeluaran dalam jumlah besar. Sebagai gantinya, mereka mencari bentuk penghargaan kecil atau self-reward untuk diri mereka sendiri.
Ekonom INDEF Abra Talattov menjelaskan bahwa perilaku berburu self-reward saat kondisi finansial sulit bukan merupakan hal baru. Menurut dia, masyarakat memerlukan ruang khusus untuk mengurai stres sekaligus menjaga motivasi kerja di tengah himpitan harian.
"Motivasinya untuk meredakan stres dan kelelahan kerja. Ini bentuk pelepasan," kata Abra.
Abra memaparkan bahwa pemenuhan kebutuhan masyarakat zaman sekarang sudah bergeser dari sekadar aspek fisik ke arah kesehatan mental serta kenyamanan emosional.
"Orang sekarang mengalokasikan dana untuk menjaga kesehatan mental, membangun reputasi pribadi, atau gaya hidup yang mencerminkan identitas mereka," ujarnya.
Pilihan untuk penghargaan diri ini sangat beragam, mulai dari kosmetik, makeup, kopi, hingga aktivitas fisik seperti kelas olahraga dan perjalanan singkat.
Asal-usul Istilah Lipstick Effect
Walaupun menggunakan istilah lipstik, fenomena ini tidak melulu berkaitan dengan produk kosmetik bibir. Istilah ini mulai dikenal luas setelah Leonard Lauder dari Est├®e Lauder mengamati adanya lonjakan angka penjualan lipstik sewaktu kondisi ekonomi global sedang melemah.
Akan tetapi, hasil studi dari ekonom Yasemin Dildar mengungkapkan sudut pandang lain. Lonjakan belanja produk kecantikan saat masa sulit cenderung dipicu oleh kebutuhan masyarakat terhadap hiburan sederhana yang ramah dompet.
"Itu hanya bentuk kesenangan sederhana," kata Dildar.
Berdasarkan laporan tersebut, publik mulai mengerem pembelian barang mewah berharga tinggi seperti perhiasan atau tas mahal. Mereka kemudian beralih pada produk kosmetik yang lebih terjangkau namun tetap menawarkan kepuasan serupa.
Dampak Emosional dari Kemewahan Kecil
Lipstik kerap dinilai sebagai representasi dari kemewahan kecil yang tetap dapat dijangkau oleh masyarakat saat situasi ekonomi sedang lesu. Produk ini dianggap mampu memberikan dampak psikologis yang instan.
Analis industri kecantikan NPD Group, Larissa Jensen, mengutarakan bahwa komoditas seperti lipstik sanggup memberikan perubahan cepat pada penampilan sekaligus suasana hati.
"Lipstik sangat kuat karena bisa langsung mengubah penampilan wajah," ujarnya.
Sementara itu, psikolog klinis April Benson berpendapat bahwa lipstik memuat efek emosional yang signifikan. Benda tersebut dinilai mampu mendongkrak rasa percaya diri serta daya tarik seseorang secara instan.
Pergeseran serupa juga sempat terekam selama masa pandemi. Ketika kewajiban memakai masker menurunkan angka penjualan makeup bibir, transaksi produk parfum justru melonjak tajam karena masyarakat tetap berburu self-reward alternatif.
Gejala psikologis ini juga kian nyata di Indonesia. Sebagian kelompok masyarakat memilih membelanjakan uang untuk barang tahan lama yang memicu kenyamanan, sedangkan kelompok lain lebih mengutamakan aspek pengalaman seperti healing trip.