Tren HP Jadul Tin Can Laris di Amerika Serikat Kurangi Screen Time

Tren HP Jadul Tin Can Laris di Amerika Serikat Kurangi Screen Time
Foto: Ilustrasi Tren HP Jadul Tin Can Laris di Amerika Serikat Kurangi Screen Time.

Tren penggunaan ponsel bergaya klasik atau ponsel jadul kembali populer di Amerika Serikat melalui perangkat unik bernama Tin Can. Perangkat ini dirancang dengan bentuk menyerupai telepon rumah tradisional lengkap dengan dudukan gagang telepon.

Dilansir dari Tekno, Tin Can menjadi sangat populer di kalangan orang tua dan institusi pendidikan sebagai solusi meminimalisasi waktu layar atau screen time pada anak-anak. Hal ini bertujuan agar anak tidak terus-menerus menonton konten di smartphone.

Popularitas perangkat ini dibuktikan dengan klaim penjualan yang telah menyentuh angka ratusan ribu unit. Tin Can Untechnologies Inc., startup pengembang gadget ini, menyatakan bahwa produk mereka laris berkat rekomendasi dari mulut ke mulut.

Berbeda dengan ponsel pintar modern, Tin Can memiliki fitur yang sangat terbatas. Alat ini harus terhubung langsung ke stopkontak dan hanya menyediakan fungsi dasar seperti speakerphone, panggilan cepat (speed dial), dan mesin penjawab otomatis.

Pengguna Tin Can dapat melakukan panggilan telepon secara gratis antar perangkat yang sama atau ke nomor layanan darurat. Untuk jangkauan yang lebih luas, perusahaan menyediakan paket berlangganan tertentu.

"Untuk menghubungi nomor di luar jaringan, tersedia paket berlangganan sekitar 10 dolar AS (sekitar Rp 172.000) per bulan yang memungkinkan panggilan ke nomor yang telah disetujui orang tua," tulis laporan tersebut.

Sejumlah sekolah mulai menerapkan penggunaan Tin Can untuk membatasi pemakaian ponsel pintar sejak dini. Salah satunya adalah Nativity Parish School di Kansas City yang mencatat hampir 95 persen keluarga siswa taman kanak-kanak hingga kelas lima telah bergabung dalam program ini.

Para siswa di sekolah tersebut kembali menggunakan buku direktori kertas untuk mencatat kontak secara manual. Langkah serupa diambil oleh St. JamesÔÇÖ Episcopal School di Los Angeles yang membagikan perangkat ini kepada 220 keluarga.

Inisiatif ini dilakukan guna menjaga jalur komunikasi antar siswa tanpa harus bergantung pada grup chat. Hal tersebut dinilai efektif mencegah masalah sosial seperti perasaan tersisihkan di kalangan pelajar.

CEO Tin Can Untechnologies, Chet Kittleson, mengungkapkan bahwa produk ini lahir dari kegelisahan terhadap cara anak-anak berkomunikasi di era digital saat ini.

"Percakapan suara dapat membantu anak mengembangkan kemampuan komunikasi yang lebih baik, termasuk belajar menghadapi jeda dalam percakapan," kata Chet Kittleson.

Lonjakan permintaan terhadap Tin Can sempat menyebabkan gangguan server, terutama saat momen instalasi massal pada Hari Natal. Saat ini, ketersediaan perangkat Tin Can masih terbatas di wilayah Amerika Serikat dan Kanada saja.

Artikel terkait

Rekomendasi