Tren kencan baru yang dikenal sebagai delulu dating mulai marak diperbincangkan di media sosial pada Kamis (16/4/2026) sebagai pola pikir optimis yang cenderung mengabaikan realita hubungan. Istilah ini merujuk pada perilaku seseorang yang memilih tetap percaya bahwa hubungan asmara akan berhasil meskipun terdapat tanda bahaya atau red flags.
Konsep kencan ini menekankan pada harapan dan fantasi dibandingkan logika serta kehati-hatian dalam memilih pasangan. Dilansir dari Wolipop, pelaku delulu dating seringkali langsung membuka diri untuk menjalin hubungan baru segera setelah mengalami patah hati tanpa melalui proses refleksi yang panjang.
Perbedaan signifikan terlihat pada cara Generasi Z menghadapi kegagalan asmara dibandingkan generasi sebelumnya. Kelompok usia ini dinilai lebih berani mengambil risiko emosional dan tidak terlalu khawatir terhadap potensi kegagalan dalam membangun kedekatan dengan orang baru.
Karakteristik utama dari tren ini mencakup pengabaian terhadap tanda-tanda buruk pada pasangan dan menganggap upaya kecil sebagai komitmen yang besar. Selain itu, penganut mindset ini cenderung memiliki harapan tinggi bahwa pasangan mereka akan berubah seiring berjalannya waktu demi memenuhi ekspektasi hubungan.
Terdapat beberapa dampak positif dari fenomena ini, salah satunya adalah kemampuan individu untuk bangkit lebih cepat dari kesedihan masa lalu. Fleksibilitas dalam mencoba pengalaman baru dengan berbagai tipe orang juga menjadi sisi lain yang didapatkan oleh pelaku kencan delusional ini.
Namun, para ahli mengingatkan adanya risiko terjebak dalam hubungan beracun atau toxic akibat menutup mata terhadap realita. Siklus patah hati yang berulang menjadi ancaman nyata bagi mereka yang terus mengedepankan fantasi di atas fakta dalam dinamika berpasangan.
Keseimbangan antara optimisme dan kesehatan emosional menjadi kunci agar eksplorasi diri dalam mencari pasangan tidak berujung pada kekecewaan mendalam. Pengguna media sosial diingatkan untuk tetap menjaga batasan logika agar terhindar dari ekspektasi yang tidak realistis terhadap pasangan.