Tren Avatar AI Kuasai Sesi Live Shopping 24 Jam di China

Tren Avatar AI Kuasai Sesi Live Shopping 24 Jam di China
Foto: Ilustrasi Tren Avatar AI Kuasai Sesi Live Shopping 24 Jam di China.

Fenomena unik muncul dalam aktivitas siaran langsung belanja atau live shopping di China, di mana para kreator mampu berjualan selama 24 jam nonstop. Dilansir dari Tekno, banyak dari sosok yang muncul di layar tersebut sebenarnya bukan manusia asli, melainkan avatar AI.

Kreator AI ini merupakan kloning digital dari sosok manusia yang sebenarnya. Saat siaran berlangsung, kreator asli hanya perlu berdiri di depan latar hijau atau greenscreen tanpa harus berbicara banyak atau menunjukkan ekspresi intens.

Sebaliknya, tampilan yang diterima penonton menunjukkan sosok avatar yang sangat rapi, penuh energi, dan ekspresif. Teknologi ini memungkinkan avatar untuk menjelaskan detail produk hingga merespons interaksi audiens secara natural layaknya manusia.

Penggunaan kecerdasan buatan dalam dunia live commerce di Tiongkok bukan sekadar uji coba, melainkan sudah memberikan dampak ekonomi yang masif. Salah satu contoh nyata dilakukan oleh influencer populer Luo Yonghao yang bekerja sama dengan raksasa teknologi Baidu.

Pada hari Minggu, 15 Juni 2025, Luo Yonghao bersama Xiao Mu mengadakan siaran langsung menggunakan avatar digital interaktif berbasis model AI generatif. Dalam sesi yang berlangsung lebih dari enam jam tersebut, penjualan mencapai angka 55 juta yuan atau sekitar Rp 930,3 miliar.

Pencapaian nilai transaksi tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan ketika Luo Yonghao melakukan sesi siaran secara manual tanpa bantuan kecerdasan buatan. Avatar tersebut dikembangkan melalui pelatihan data video selama bertahun-tahun untuk meniru gaya bicara dan karakter khas sang kreator.

Pertumbuhan Industri dan Keunggulan Operasional

Data menunjukkan pertumbuhan pesat industri ini dengan adanya lebih dari 993.000 perusahaan di bidang avatar digital di China. Menariknya, lebih dari 400.000 perusahaan di antaranya baru didirikan dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir.

Pada ajang festival belanja online ÔÇ£618ÔÇØ tanggal 18 Juni, terdapat lebih dari 5.000 merek yang memanfaatkan teknologi ini. Siaran berbasis AI tersebut berhasil menjaring lebih dari 100 juta penonton dan memicu hingga 5 juta interaksi pengguna.

Sektor ini diprediksi terus tumbuh dengan estimasi pendapatan mencapai 640 miliar yuan atau sekitar Rp 10.826,2 triliun pada tahun 2025. Keunggulan utamanya terletak pada kemampuan siaran tanpa henti karena AI tidak memerlukan istirahat seperti manusia.

Selain faktor durasi, penggunaan teknologi ini secara signifikan memangkas biaya operasional. Brand atau kreator tidak lagi memerlukan studio yang luas, kru produksi yang lengkap, atau persiapan teknis yang panjang untuk memulai penjualan.

Tantangan dan Regulasi Transparansi

Meski memiliki potensi besar, penerapan avatar AI tetap menghadapi sejumlah kendala teknis dan sosial. Beberapa penonton masih merasa bahwa interaksi yang dihasilkan terkadang terasa kaku dan kurang alami jika dibandingkan dengan komunikasi antarmanusia.

Persoalan transparansi juga menjadi perhatian, mengingat tidak semua pengguna dapat segera menyadari bahwa mereka sedang berinteraksi dengan program komputer. Hal ini memicu otoritas dan platform di China untuk mulai menerapkan aturan yang lebih ketat.

Platform seperti Douyin mewajibkan para kreator untuk menyertakan label khusus apabila menggunakan teknologi avatar AI dalam siaran mereka. Selain itu, regulasi tersebut juga mengharuskan adanya pengawasan dari manusia asli selama aktivitas siaran berlangsung untuk menjamin keamanan konten.

Artikel terkait

Rekomendasi