Para orang tua, khususnya ibu yang menitipkan anak di daycare Little Aresha, Yogyakarta, dilaporkan mengalami beban emosional berat serta trauma psikologis mendalam menyusul terungkapnya kasus kekerasan di lembaga pengasuhan tersebut pada Selasa (28/4/2026).
Kondisi ini diperparah oleh tekanan publik yang justru menyudutkan posisi para ibu di saat mereka tengah berjuang menghadapi kecemasan dan hilangnya rasa aman, sebagaimana dilansir dari Lifestyle.
Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo menjelaskan bahwa kemunculan berbagai reaksi emosional negatif merupakan dampak yang wajar dialami oleh individu yang berada dalam situasi traumatis.
"Ibu bisa mengalami shock, sedih mendalam, marah, cemas, dan rasa bersalah. Ibu juga bisa kehilangan rasa aman dan kepercayaan, karena tempat yang seharusnya dipercaya justru mencelakai anak," ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (28/4/2026).
Penjelasan mengenai mekanisme pertahanan diri menunjukkan bahwa orang tua secara naluriah merasa gagal melindungi anak saat terjadi insiden kekerasan, sehingga mereka cenderung menyalahkan diri sendiri secara berlebihan.
"Padahal, dalam kasus seperti ini, pelaku sepenuhnya adalah pihak yang melakukan kekerasan. Namun, dalam kondisi traumatis, seseorang cenderung mencari kendali dan penjelasan, yang sering berujung pada menyalahkan diri sendiri," jelasnya.
Vera juga menyoroti dampak destruktif dari komentar negatif netizen di media sosial yang mempertanyakan keputusan orang tua dalam menitipkan anak, yang berisiko menciptakan trauma lapis kedua bagi para ibu.
"Komentar negatif bisa memperkuat rasa bersalah, memicu kecemasan, bahkan membuat ibu menarik diri dari lingkungan sosial. Ini berisiko menjadi trauma kedua setelah kejadian utama," kata Vera.
Langkah pemulihan mendesak dilakukan dengan memberikan ruang bagi ibu untuk mengekspresikan emosi, membatasi paparan berita pemicu stres, serta memastikan dukungan dari lingkungan keluarga terdekat agar kondisi mental tetap stabil.