Kawasan Transmigrasi Sulawesi Tengah Pasok 80 Persen Durian ke Tiongkok

Kawasan Transmigrasi Sulawesi Tengah Pasok 80 Persen Durian ke Tiongkok
Foto: Ilustrasi Kawasan Transmigrasi Sulawesi Tengah Pasok 80 Persen Durian ke Tiongkok.

Kawasan transmigrasi Bahari Tomini Raya di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, tercatat memberikan kontribusi masif terhadap sektor perkebunan nasional. Wilayah ini menjadi tulang punggung produksi durian yang kini merambah pasar internasional.

Menteri Transmigrasi, M Iftitah Sulaiman Suryanagara, mengungkapkan bahwa kawasan tersebut menyumbang sekitar 80 persen dari total produksi durian di wilayah itu. Potensi ekonomi yang dihasilkan pun sangat signifikan, mencapai ratusan miliar hingga hampir Rp 1 triliun setiap tahunnya.

"Kawasan transmigrasi ini menyumbang sekitar 80 persen produksi durian di Kabupaten Parigi Moutong dengan nilai ratusan miliar hingga mendekati Rp 1 triliun per tahun," ujar Iftitah di Grha ITS, Surabaya, Sabtu (18/04/2026), seperti dilansir dari Kompas.

Kualitas komoditas dari kawasan ini telah memenuhi standar ekspor, terutama untuk pasar Tiongkok. Pemerintah secara resmi baru saja melepas pengiriman durian asal Sulawesi Tengah tersebut ke Negeri Tirai Bambu tersebut.

"Dua hari lalu, kami baru saja kembali dari Palu, Sulawesi Tengah. Bersama Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Badan Karantina Nasional, Bea Cukai, dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, kami melepas ekspor durian ke Tiongkok. Salah satunya dari kawasan transmigrasi Bahari Tomini Raya," kata Iftitah.

Iftitah menekankan bahwa pencapaian ini merupakan bukti nyata transformasi program transmigrasi. Program ini tidak lagi terbatas pada perpindahan penduduk, melainkan telah berevolusi menjadi motor penggerak ekonomi berbasis kawasan.

Di tengah prestasi ekonomi tersebut, terselip kisah dedikasi seorang mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bernama Abdul Rohid. Mahasiswa D4 Rekayasa Teknik Instrumentasi ini gugur saat menjalankan tugas dalam Tim Ekspedisi Patriot (TEP).

Almarhum mendedikasikan masa akhirnya untuk mengabdi di kawasan transmigrasi Bahari Tomini Raya sebelum wafat pada Senin (10/11/2025) karena sakit. Dalam prosesi wisuda di ITS, sosoknya dikenang sebagai pemuda yang memilih jalan pengabdian.

"Almarhum Abdul Rohid sebenarnya memiliki pilihan untuk menempuh jalan yang lebih mudah. Beliau seharusnya wisuda pada bulan September tahun lalu, namun ia memilih menunda itu semua. Rohid memilih bergabung dalam program Transmigrasi Patriot. Ia memilih turun ke lapangan, ia memilih mengabdi. Itu tentu bukanlah keputusan yang biasa, itu adalah keputusan patriot," tutur Iftitah.

Sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian tersebut, Kementerian Transmigrasi berkomitmen memberikan beasiswa pendidikan penuh bagi adik almarhum, Aprilia Nur Intan Saputri, hingga jenjang sarjana.

"Ia (Abdul Rohid) ingin adiknya, Intan Aprilia, menjadi sarjana. Hari ini, setelah prosesi wisuda ini, Kementerian Transmigrasi akan menyerahkan bantuan beasiswa kepada adiknya hingga lulus sarjana. Dan kami mengapresiasi komitmen dari ITS yang akan ikut menjembatani agar adiknya dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi," ungkap Iftitah.

Selain beasiswa, Iftitah secara pribadi berencana memberangkatkan orang tua almarhum untuk ibadah umrah. Hal ini merupakan upaya mewujudkan impian yang belum sempat direalisasikan oleh Abdul Rohid semasa hidupnya.

Pihak keluarga juga menyerahkan hasil riset almarhum berupa alat pembersih udara atau air purifier kepada pihak kampus. Rektor ITS, Bambang Pramujati, menyatakan kesiapannya untuk mengembangkan teknologi tersebut agar bisa diproduksi secara massal.

"Kami Insya Allah akan mencoba melihat apa air purifier yang diberikan dan kami akan mengembangkan, akan menjadi lebih baik lagi. Kalau kami lihat sudah bagus dan kami akan mencoba untuk bisa kami hilirkan supaya bisa dimanfaatkan dan bisa kami mass production," kata Bambang.

Artikel terkait

Rekomendasi