Kebutuhan finansial masyarakat yang meningkat setelah Ramadan dan Lebaran memicu lonjakan signifikan pada aktivitas penjaminan aset. Fenomena ini tercatat di berbagai wilayah Kota Bima dan Kabupaten Bima, khususnya pada PT Pegadaian UPC Ambalawi.
Masyarakat dinilai semakin bijak dalam mengelola perputaran dana jangka pendek dengan memanfaatkan emas yang dimiliki tanpa harus menjualnya. Perubahan perilaku dalam manajemen keuangan pasca-hari raya ini sekaligus menjadi indikator penguatan literasi keuangan di daerah tersebut.
Data internal hingga akhir April 2026 menunjukkan adanya pertumbuhan transaksi yang mencolok dibandingkan dengan periode sebelum Idul Fitri, seperti dikutip dari Investortrust. Mayoritas nasabah memilih menggadaikan perhiasan emas untuk mencukupi berbagai kebutuhan mendesak.
Keperluan yang mendominasi pembiayaan ini meliputi biaya pendidikan anak, pemenuhan modal kerja untuk usaha, hingga pengeluaran operasional rumah tangga. Kondisi tersebut menegaskan fungsi emas yang bergerak dinamis sebagai aset likuid yang fleksibel saat masyarakat membutuhkan dana segar.
ÔÇ£Pasca Lebaran, kebutuhan likuiditas masyarakat cenderung meningkat. Namun yang menarik, masyarakat kini lebih memilih menggadaikan emas dibandingkan menjualnya terutama di Pegadaian UPC Ambalawi. Ini menunjukkan kesadaran bahwa emas tetap dipertahankan sebagai aset jangka panjang,ÔÇØ ujar Deputy Bisnis Area Pegadaian Bima dan Pegadaian Sumbawa, Mustofa dalam siaran press, Jumat (24/4/2026).
ÔÇ£Pegadaian UPC Ambalawi mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan sebesar 21,65% secara year to date. Sedangkan secara Area, Pegadaian Bima dan Pulau Sumbawa sendiri tumbuh sebesar 23,68%ÔÇØ, tambah Mustofa.
Layanan keuangan yang dihadirkan oleh lembaga kliring ini menawarkan kemudahan prosedur pencairan serta transparansi dalam setiap transaksi. Proses yang efisien menjadi alasan utama bagi masyarakat setempat untuk menjatuhkan pilihan pada produk yang tersedia.
Faktor penarik minat nasabah lainnya adalah perpanjangan program bebas bunga yang berlaku sampai akhir April 2026. Melalui skema stimulus ini, pemohon pinjaman dapat mengakses dana dengan tarif sewa modal sebesar 0% demi meringankan beban ekonomi pasca-lebaran.
ÔÇ£Program ini kami hadirkan untuk membantu masyarakat menjaga stabilitas keuangan tanpa harus kehilangan aset berharganya. Emas tetap aman, kebutuhan tetap terpenuhi,ÔÇØ tambah Mustofa.
Aktivitas pembiayaan berbasis gadai di wilayah Nusa Tenggara Barat memang memperlihatkan pergerakan yang masif setelah perayaan hari besar keagamaan. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh pihak manajemen wilayah yang mengawasi area operasional tersebut.
ÔÇ£Kami melihat adanya peningkatan transaksi gadai yang cukup tinggi pasca Lebaran, terutama di Pegadaian Cabang Bima dan unit-unit layanan seperti Pegadaian UPC Ambalawi. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin memahami fungsi gadai sebagai solusi keuangan yang bijak dan terencana,ÔÇØ ungkap Pemimpin Wilayah Kanwil VII Denpasar Edy Purwanto.
Melalui respons pasar yang positif ini, manajemen meyakini bahwa instrumen gadai akan terus bertransformasi menjadi bagian penting dari perencanaan keuangan jangka panjang masyarakat, bukan lagi sekadar saluran dana darurat.