Jemaah calon haji di berbagai wilayah Indonesia menggelar tradisi walimatus safar menjelang keberangkatan ke Tanah Suci pada Sabtu, 18 April 2026. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk permohonan doa restu dan keselamatan agar perjalanan ibadah rukun Islam kelima tersebut berjalan lancar.
Tradisi ini merupakan perhelatan atau jamuan yang bertujuan sebagai ungkapan syukur sekaligus sarana silaturahmi antara jemaah dengan keluarga serta tetangga. Dilansir dari Detikcom, praktik walimatus safar mulai dikenal luas oleh masyarakat sekitar tahun 1970-an sebagai bentuk selamatan.
Gus Arifin dalam buku Ensiklopedia Fiqih Haji dan Umrah menjelaskan bahwa kata walimah merujuk pada kegiatan kenduri. Meskipun tidak ditemukan pada masa awal Islam, tradisi ini kini menjadi bagian dari persiapan mental dan spiritual bagi para jemaah haji.
Dalam pelaksanaannya, jemaah biasanya mengundang pemuka agama untuk memimpin pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan sholawat. Salah satu inti acara adalah pembacaan doa khusus yang diharapkan membawa keberkahan bagi mereka yang akan berangkat.
"Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosamu, dan memudahkanmu dalam jalan kebaikan di mana pun kau berada." artinya doa yang tercantum dalam situs NU.
Mengenai dasar hukum pelaksanaannya, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar dan Hj. Indriya R. Dani dalam buku 100+ Kesalahan dalam Haji & Umrah menyebutkan bahwa walimatus safar bersifat sunnah. Penyelenggaraan acara ini bernilai pahala bagi yang melaksanakan namun tidak berdosa jika ditinggalkan.
Kegiatan berkumpul dalam majelis ilmu dan doa bersama ini juga didasarkan pada anjuran agama mengenai keutamaan membaca Al-Qur'an secara kolektif. Hal ini diyakini dapat mendatangkan rahmat dari Allah SWT bagi seluruh jemaah yang hadir.
"Muslim yang berkumpul di suatu majelis membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an Al-Karim dan mengadakan majelis ilmu, Allah akan menurunkan rahmat kepada mereka." sabda Rasulullah SAW dalam riwayat Muslim.
Selain itu, terdapat bacaan doa lain yang sering dilantunkan berdasarkan riwayat saat Nabi Muhammad SAW mendoakan seseorang yang hendak menempuh perjalanan jauh. Doa tersebut berisi permohonan perlindungan total selama musafir berada di negeri orang.
"Semoga engkau dalam pemeliharaan dan perlindungan Allah SWT dan semoga Allah SWT memberikan perbekalan takwa kepadamu, mengampuni dosa-dosamu, dan membimbingmu kepada kebaikan di mana pun engkau berada." bunyi doa dalam riwayat lainnya.
Seluruh rangkaian doa dan jamuan makan yang disajikan dalam walimatus safar menjadi simbol kesiapan batin jemaah. Tradisi ini terus dipertahankan sebagai sarana saling memaafkan sebelum jemaah benar-benar meninggalkan tanah air menuju Mekkah dan Madinah.