Tiga kapal perang TNI Angkatan Laut (AL) sedang dalam perjalanan kembali ke Indonesia usai merampungkan misi kunjungan pelabuhan di Cebu, Filipina, pada Senin (11/5/2026). Kunjungan diplomatik tersebut dilaksanakan bersamaan dengan momentum penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang berlangsung pada 7-8 Mei 2026.
Sebagaimana dilansir dari Nasional, pengerahan kapal-kapal tersebut bertujuan untuk mempererat kerja sama antarangkatan laut di kawasan. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya penguatan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara sahabat di Asia Tenggara melalui kegiatan goodwill port visit.
Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali memberikan rincian mengenai misi ketiga kapal tersebut saat ditemui di Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Ia mengonfirmasi bahwa pelaksanaan agenda di luar negeri itu berpapasan dengan agenda besar para pemimpin negara Asia Tenggara.
"Tiga KRI dari Filipina melaksanakan port visit, port visit, goodwill port visit di Cebu, Filipina. Kebetulan dilaksanakan juga KTT ASEAN di sana," kata Laksamana TNI Muhammad Ali.
Ali menjelaskan bahwa seluruh armada yang bertugas saat ini telah meninggalkan Filipina untuk kembali ke pangkalan di tanah air. Ketiga kapal perang tersebut mencakup berbagai jenis kapal yang memiliki kemampuan operasional tinggi.
"Sekarang tiga kapal tersebut, KRI Brawijaya, Prabu Siliwangi, dan R.E. Martadinata sudah perjalanan kembali ke Tanah Air," tambah Muhammad Ali.
Bersamaan dengan kepulangan armada laut tersebut, TNI juga sempat menyiagakan kekuatan penuh di wilayah Sulawesi Utara pada Jumat (8/5/2026). Operasi kesiapsiagaan tersebut melibatkan integrasi kekuatan dari matra darat, laut, hingga udara guna menjamin keamanan kawasan selama berlangsungnya KTT ASEAN.
Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Rico Ricardo merinci alutsista yang dikerahkan dalam operasi di wilayah perbatasan tersebut. Kekuatan udara dan laut menjadi fokus utama dalam menjaga stabilitas selama agenda internasional berlangsung.
"Ada 5 pesawat F-16, Hercules dan A400M untuk operasi kesiapsiagaan ini. (Lalu) 3 KRI (jenis) Brawijaya, Siliwangi dan RE Martadinata," ungkap Brigjen TNI Rico Ricardo.
Rico menegaskan bahwa kesiapsiagaan personel dan alutsista merupakan prosedur rutin TNI dalam mengantisipasi dinamika situasi selama pertemuan strategis di kawasan ASEAN. Menurutnya, seluruh pergerakan pasukan dilakukan dengan tetap menghormati kedaulatan negara tetangga.
"Indonesia memandang stabilitas dan keamanan kawasan sebagai tanggung jawab bersama negara-negara ASEAN," ujar Rico Ricardo.
Ia juga menambahkan bahwa kontribusi militer Indonesia diharapkan mampu menciptakan suasana yang kondusif bagi keberhasilan kerja sama regional. Kesiapan ini dinilai krusial sebagai bentuk dukungan nyata terhadap kesuksesan agenda-agenda strategis tingkat tinggi.
"Karena itu, kesiapsiagaan TNI dalam konteks ini merupakan bagian dari kontribusi Indonesia untuk mendukung terciptanya situasi kawasan yang aman, kondusif, dan mendukung suksesnya agenda-agenda strategis ASEAN," tambah Rico Ricardo.