Timwas Haji DPR Minta Petugas Beri Perhatian Khusus Jemaah Lansia

Timwas Haji DPR Minta Petugas Beri Perhatian Khusus Jemaah Lansia
Foto: Ilustrasi Timwas Haji DPR Minta Petugas Beri Perhatian Khusus Jemaah Lansia.

Tim Pengawas Haji Dewan Perwakilan Rakyat (Timwas Haji DPR) meminta petugas memberikan perhatian khusus kepada jemaah haji lanjut usia dan penderita penyakit katastropik di Tanah Suci. Permintaan ini disampaikan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Senin (18/5/2026), seiring tantangan cuaca panas ekstrem yang melanda Arab Saudi, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Aspek kesehatan kelompok rentan tersebut menjadi fokus utama legislatif demi memastikan keselamatan mereka selama menjalankan ibadah. Pengawasan ketat juga diperlukan karena sebagian besar jemaah asal Indonesia didominasi oleh kelompok usia senja.

"Yang menjadi highlight Komisi IX adalah bagaimana aspek kesehatan ini mendapat perhatian. Kenapa? Karena kebanyakan jemaah haji yang berangkat dari Indonesia ini sudah berusia lansia dan sebagiannya menderita penyakit katastropik," kata anggota Komisi IX DPR yang juga angota Timwas Haji DPR Netty Prasetiani.

Kondisi suhu udara di Arab Saudi dilaporkan bisa mencapai 40 hingga 45 derajat Celsius. Menghadapi situasi tersebut, Netty menekankan pentingnya langkah antisipasi yang matang dari pihak penyelenggara.

"Sehingga dengan cuaca yang cukup panas, menurut kabar 40, 42 sampai 45 derajat, Celsius, tentu pemerintah harus memberikan perhatian secara khusus ya kepada jemaah haji kita yang berusia lansia dan memiliki penyakit penyerta," lanjut dia.

Petugas haji diminta menjaga ketersediaan logistik medis dan pemenuhan gizi yang sesuai bagi jemaah yang memiliki risiko kesehatan tinggi. Koordinasi antarlini dinilai menjadi kunci utama dalam penanganan medis di lapangan.

"Kita harapkan itu juga menjadi perhatian teman-teman dari Kementerian Haji dan Umrah dan juga petugas kesehatan," katanya.

Banyak jemaah lanjut usia yang berangkat tanpa didampingi oleh anggota keluarga. Oleh sebab itu, pendampingan melekat dari petugas sangat dibutuhkan untuk mengontrol aktivitas ibadah agar fisik jemaah tidak terkuras sebelum puncak haji.

"Kenapa? Karena ibadah haji ini sebagian besarnya adalah ibadah fisik dan puncaknya nanti pada saat wukuf di Arafah dan dua-tiga hari di Mina untuk melontar jumrah dan juga melakukan tawaf ifadah," Netty mengingatkan.

Rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) membutuhkan stamina yang prima dari seluruh jemaah. Implementasi skema murur atau melintas di Muzdalifah tanpa menginap bagi lansia dinilai sebagai langkah perlindungan yang tepat.

"Ini tentu saja menjadi salah satu kebijakan yang patut kita apresiasi karena kita ingin bahwa bukan hanya wukuf di Arafahnya, tapi juga pada saat jemaah haji menyempurnakan ibadahnya di Mina nanti," tutup Netty.

Artikel terkait

Rekomendasi