Tim nasional Republik Demokratik Kongo secara mengejutkan berhasil memastikan tempat di putaran final Piala Dunia 2026. Keberhasilan ini sekaligus mengakhiri penantian panjang masyarakat negara tersebut selama 52 tahun.
Negara yang dijuluki The Leopards ini terakhir kali merasakan atmosfer kompetisi sepak bola tertinggi sejagat pada edisi 1974. Saat itu, mereka masih berkompetisi dengan nama negara Zaire, sebagaimana dikutip dari Suara.
Pencapaian bersejarah ini memicu gelombang emosi yang campur aduk di kalangan warga. Di satu sisi, ada kebanggaan besar karena mampu bersaing di kancah internasional, namun di sisi lain, kondisi domestik masih diliputi kecemasan mendalam.
Lolosnya Kongo ke panggung dunia menyoroti kontras tajam yang terjadi di dalam negeri. Negara di Afrika Tengah ini merupakan salah satu wilayah terkaya secara geologis dengan cadangan mineral bernilai triliunan dolar AS.
Kongo memiliki kandungan kobalt, tembaga, dan emas yang sangat melimpah. Namun, kekayaan alam tersebut belum mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya karena konflik berkepanjangan dan masalah infrastruktur yang berat.
Sekitar 73 hingga 75 persen penduduk Republik Demokratik Kongo masih hidup dalam jeratan kemiskinan ekstrem. Secara ekonomi, PDB per kapita negara ini tercatat sebagai salah satu yang terendah di dunia saat ini.
Simbol Persatuan di Tengah Krisis Kemanusiaan
Data menunjukkan bahwa lebih dari 60 juta warga hidup dalam kondisi serba kekurangan. Selain itu, terdapat sekitar 26,4 juta orang yang membutuhkan bantuan kemanusiaan mendesak, termasuk 15,4 juta anak-anak yang terdampak krisis.
Di tengah situasi sulit dan perpecahan politik, sepak bola muncul sebagai elemen tunggal yang mampu menyatukan bangsa. Jersey kebanggaan tim nasional tetap dikenakan dengan bangga dari Kinshasa hingga wilayah timur yang terdampak perang.
Keberhasilan menembus Piala Dunia 2026 dianggap sebagai bukti daya tahan rakyat Kongo. Meski beroperasi dalam sistem yang penuh keterbatasan, prestasi di lapangan hijau tetap mampu diraih dan menjadi harapan baru bagi identitas nasional mereka.