Thomas Dominguez Turunkan Berat Badan 22 Kilogram Usai Serangan Jantung

Thomas Dominguez Turunkan Berat Badan 22 Kilogram Usai Serangan Jantung
Foto: Ilustrasi Thomas Dominguez Turunkan Berat Badan 22 Kilogram Usai Serangan Jantung.

Serangan jantung yang terjadi pada usia 43 tahun menjadi titik balik krusial bagi kehidupan Thomas Dominguez. Saat menjalani perawatan di rumah sakit, pria yang berasal dari Corpus Christi, Texas, Amerika Serikat tersebut juga didiagnosis mengidap pradiabetes akibat berat badan berlebih.

Seperti dikutip dari Lifestyle, Thomas Dominguez kini telah berhasil memangkas berat badannya sekitar 22 kilogram. Tidak hanya itu, ia juga aktif berpartisipasi dalam berbagai lomba lari, termasuk ajang marathon dan Spartan Race.

Thomas Dominguez yang saat ini menginjak usia 45 tahun mengisahkan bahwa dirinya dahulu bekerja selama 12 jam sehari di depan panel kontrol sebuah kilang minyak. Kesibukan jadwal kerja yang padat membuatnya terbiasa mengonsumsi makanan cepat saji yang praktis tanpa memikirkan kandungan nutrisinya.

ÔÇ£Selama bertahun-tahun berat badan saya terus naik,ÔÇØ ujarnya.

Ketika berada pada kondisi terberatnya, bobot tubuh Thomas Dominguez sempat menyentuh angka sekitar 98 kilogram. Ia mengakui bahwa keadaan tersebut sempat mengikis rasa percaya dirinya, sehingga ia selalu mengenakan pakaian berukuran besar dan enggan memasukkan kemeja ke dalam celana karena merasa tidak nyaman.

Fase terendah dalam hidupnya kemudian datang pada Agustus 2023 saat serangan jantung melanda dirinya. Thomas Dominguez baru mengetahui bahwa gangguan kesehatan tersebut tidak hanya dipicu oleh obesitas, melainkan ada faktor genetika yang memengaruhi kondisi pembuluh darahnya.

Selain masalah penyumbatan, tim medis juga mendiagnosis dirinya mengalami kondisi pradiabetes akibat kelebihan berat badan. Ketika dirawat di rumah sakit, Thomas Dominguez sempat bertemu dengan pasien diabetes lain yang menghadapi kenyataan bahwa kedua kakinya harus diamputasi akibat komplikasi.

ÔÇ£Saya takut karena merasa sedang menuju kondisi yang sama,ÔÇØ katanya.

Pengalaman menyeramkan itu seketika menyadarkan dirinya untuk segera membenahi gaya hidup agar bisa tetap mendampingi keluarganya dalam kondisi sehat. Selepas keluar dari rumah sakit, ia mulai mencari metode penurunan berat badan yang aman.

Langkah awal yang ditempuhnya adalah mengikuti program kesehatan resmi yang difasilitasi oleh perusahaan tempatnya bekerja. Melalui program tersebut, Thomas Dominguez mendapatkan bimbingan langsung dari seorang pendamping kesehatan serta pelatih nutrisi khusus.

Ia diinstruksikan untuk membatasi konsumsi karbohidrat di bawah 30 gram per hari, sementara asupan protein harian ditargetkan berkisar pada angka 396 gram. Pola makan barunya kini beralih ke menu yang lebih padat nutrisi.

Menu sarapan paginya diganti dengan kombinasi telur dan sosis. Saat makan siang, ia memilih mengonsumsi daging sapi yang dipadukan dengan keju serta sayuran, sedangkan makan malam diisi dengan menu ayam atau steak bersama brokoli, dengan yoghurt sebagai camilan berkala.

Thomas Dominguez mengutarakan bahwa pendampingan intensif dari pelatih kesehatan menjadi faktor utama yang membuatnya konsisten menjalani transformasi tersebut. Dalam kurun waktu beberapa bulan, bobot tubuhnya menyusut drastis dari 95 kilogram menjadi 73 kilogram.

Indikator kadar HbA1c atau penanda gula darahnya yang semula menyentuh angka 6,8 persen berhasil ditekan hingga menjadi 4,9 persen dalam waktu tiga bulan. Dampak positif lain yang dirasakannya adalah ukuran celana yang mengecil hingga lima nomor serta lonjakan energi tubuh yang signifikan.

ÔÇ£Saya merasa jauh lebih bertenaga. Pikiran juga lebih jernih,ÔÇØ ujarnya.

Sebelumnya, ia kerap mengeluhkan kondisi brain fog atau kesulitan untuk fokus, namun keluhan tersebut kini sudah sepenuhnya hilang dan kualitas tidurnya menjadi lebih nyenyak. Setelah berat badannya ideal, ia mulai merutinkan aktivitas jogging dan latihan di gym.

Pada awalnya, Thomas Dominguez hanya sanggup berlari sejauh 1,6 kilometer per hari sebelum perlahan ditingkatkan menjadi 4 kilometer. Ia bahkan tetap memaksakan diri untuk berlari meskipun baru saja menyelesaikan giliran kerja shift selama 12 jam.

Beberapa bulan setelahnya, ia mulai berani mendaftarkan diri dalam ajang Spartan Race serta dua kompetisi marathon. Saat ini, ia aktif berolahraga sebanyak enam hari dalam seminggu, sering kali bersama putra bungsunya yang aktif di bidang football, renang, atletik, dan angkat beban.

Bagi Thomas Dominguez, perubahan paling mendasar dari seluruh rangkaian dietnya adalah pergeseran cara pandang terhadap makanan.

ÔÇ£Penurunan berat badan membutuhkan proses yang pelan dan konsisten,ÔÇØ katanya.

Walaupun saat ini menerapkan kontrol makanan yang relatif ketat, ia mengaku masih sesekali mengonsumsi hidangan penutup favoritnya.

ÔÇ£Asal kembali ke pola pikir sehat setelah itu, semuanya akan baik-baik saja,ÔÇØ ujarnya.

Artikel terkait

Rekomendasi