Temuan Mengejutkan Batuan Mengandung Gas di Sleman, Hanya 300 Meter dari Lokasi Kebakaran

Temuan Mengejutkan Batuan Mengandung Gas di Sleman, Hanya 300 Meter dari Lokasi Kebakaran
Foto: Temuan Mengejutkan Batuan Mengandung Gas di Sleman, Hanya 300 Meter dari Lokasi Kebakaran. (Illustration by Pexels)
Investigasi Kebakaran Misterius di <a href="/tag/sleman">Sleman</a>

Sebuah kediaman di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Sleman, mengalami 51 insiden kebakaran misterius dalam seminggu terakhir. Kebakaran ini melalap berbagai benda seperti kain, gabus, plastik, dan kayu pada Jumat (29/5/2026). Temuan ini menarik perhatian banyak pihak.

Prof. Dr. Ir. RM. Basuki Rahmad, Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi UPN Veteran Yogyakarta, melakukan pengecekan ke lokasi rumah yang terdampak kebakaran misterius tersebut. Dari lokasi, sekitar 300 meter ditemukan singkapan batuan yang mengandung genangan air dan gelembung-gelembung gas.

Setelah dilakukan investigasi, sumber kebakaran terindikasi berasal dari gas di bawah permukaan tanah. "Kami berusaha mencari tahu asal api dari lokasi sekitar 300 meter terdapat sungai dan singkapan batuan gelap. Di situ kami melihat genangan air dan gelembung gas," ungkapnya, Sabtu (30/5).

Basuki menjelaskan bahwa gas tersebut diidentifikasi sebagai gas metana, CH4, yang berada di bawah Jembatan Ndepen. "Kami melakukan pengecekan manual menggunakan paralon dan menemukan bahwa gas lemah tersebut muncul saat paralon dicabut dari air," tambahnya.

Gas metana ini diyakini berasal dari wilayah yang dulunya rawa. Gas dari dalam tanah kemudian merambat hingga ke rumah warga. "Kemungkinan kuat, wilayah ini dulunya merupakan rawa dengan batuan gelap yang menjadi penyimpanan gas. Ketika gas dalam batuan tersebut jenuh, ia akan bergerak dan bermigrasi," jelas Basuki.

Basuki juga menemukan jalur-jalur seperti patahan dan retakan menuju utara yang mengarah ke rumah warga. Kandungan gas saat ini dilaporkan sudah menurun seiring hilangnya api. Namun, pemantauan akan tetap dilakukan hingga sebulan ke depan.

"Kalau tidak ditemukan semburan gas lagi, kita bisa klasifikasikan sebagai bencana ringan atau sedang. Pantauan akan terus dilakukan," katanya. Tim ESDM bersama UPN akan terus memantau kondisi ini setiap minggu untuk mendapatkan perkembangan lebih lanjut.

Gas metana tersebut dinilai tidak berbahaya karena tekanannya rendah. Namun, penelitian lebih lanjut akan dilakukan pada batuan lain di Sungai Ndepen yang mungkin juga menyimpan gas. Ada kemungkinan gas bergerak ke lokasi lain.

Basuki menambahkan bahwa mitigasi akan dilaksanakan dengan rekaman geofisika untuk mengetahui kondisi di bawah permukaan, termasuk besar reservoir gas dan arah retakan. Ini penting untuk menetapkan langkah mitigasi selanjutnya.

Ia merekomendasikan warga pindah sementara ke lantai dua rumah selama satu bulan ke depan. "Kami sarankan Pak Agus untuk sementara tinggal di lantai dua rumah. Lantai satu sebaiknya dikosongkan selama sebulan sementara kami memantau perkembangannya," tutupnya.

Artikel terkait

Rekomendasi