PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) bersiap menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa pada hari Kamis. Langkah ini diambil untuk meminta persetujuan investor terkait kombinasi aksi korporasi besar.
Aksi korporasi tersebut mencakup pembagian dividen, pembelian kembali saham atau buyback, serta penerbitan saham baru melalui rights issue sebanyak 1,39 miliar lembar. Strategi ini dirancang untuk memperkuat struktur modal perusahaan.
Dikutip dari Investortrust, perusahaan yang terintegrasi di sektor energi ini tengah memposisikan diri di tengah pergeseran lanskap energi Indonesia. Langkah divestasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara melatarbelakangi transisi ini.
Meskipun laba bersih perusahaan tertekan oleh beban non-kas akibat divestasi PLTU, lini bisnis berkelanjutan TOBA justru mencatat pertumbuhan pesat. Pendapatan dari sektor hijau ini melonjak hingga 738% secara tahunan menjadi 164,1 juta dolar AS pada tahun 2025.
Sektor pengelolaan limbah kini menjelma menjadi pilar baru bagi pendapatan perusahaan. Lini bisnis tersebut tercatat telah memberikan kontribusi sebesar 41% dari total pendapatan keseluruhan milik emiten berkode saham TOBA ini.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey, menilai fundamental perusahaan tetap kokoh meski menghadapi kerugian akuntansi. Posisi kas TOBA meningkat sebesar 15% menjadi 102,3 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,63 triliun.
Likuiditas yang kuat ini dinilai memberikan ruang bagi perusahaan untuk melanjutkan tradisi pembagian dividen kepada para pemegang sahamnya.
"Historically, TOBA is an issuer that regularly distributes dividends. Even with non-cash losses from the asset transition, the retained earnings remain positive," kata Audrey.
Strategi Penguatan Modal Lewat Rights Issue
Pasar saat ini memberikan perhatian besar pada rencana buyback dan rights issue yang diajukan oleh manajemen. Analis MNC Sekuritas, Raka Junico, berpendapat bahwa buyback menjadi instrumen strategis untuk memulihkan kepercayaan pasar.
Langkah buyback ini mengindikasikan keyakinan manajemen bahwa harga perdagangan saham saat ini belum mencerminkan nilai intrinsik perusahaan sebagai pelopor energi hijau.
Sementara itu, rights issue sebanyak 1,39 miliar saham diproyeksikan menjadi pintu masuk bagi mitra strategis yang memiliki modal kuat.
"The rights issue scheme could facilitate strategic investors to take part in the companyÔÇÖs long-term growth," ujar Junico.
Suntikan modal segar dari hasil aksi korporasi tersebut rencananya akan dialokasikan untuk mendanai perusahaan patungan di ekosistem kendaraan listrik serta memperluas portofolio energi terbarukan milik TOBA.
Menavigasi Transformasi Menuju Target Ekonomi Hijau
Pertemuan para pemegang saham yang bertempat di Financial Hall Jakarta ini akan menjadi penentu arah masa depan TOBA. Investor juga akan memberikan suara terkait pembaruan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) perusahaan.
Pembaruan KBLI ini bertujuan untuk menyelaraskan fokus baru TOBA pada sektor ekonomi sirkular dan teknologi hijau. Emiten ini terus berupaya menjaga profitabilitas EBITDA yang sehat di tengah transisi dari energi konvensional.