Umat Islam diwajibkan memahami tata cara serta bacaan tahiyat akhir yang menjadi rukun penentu sahnya ibadah sholat pada Selasa, 21 April 2026. Pelaksanaan bagian akhir sebelum salam ini harus dilakukan secara benar karena sholat merupakan amal pertama yang dihisab saat hari kiamat.
Kewajiban melafalkan doa tasyahud akhir ini merujuk pada ketentuan ibadah yang tidak boleh ditinggalkan sebagai penutup rangkaian sholat. Sebagaimana dilansir dari Cahaya melalui rangkuman Kemenag dan Antara, terdapat aturan spesifik mengenai bacaan, posisi duduk tawaruk, hingga peletakan tangan.
Bacaan tahiyat akhir mencakup pujian kepada Allah, kesaksian iman, serta sholawat untuk Nabi Muhammad SAW dan Nabi Ibrahim AS. Berikut adalah kutipan lengkap doa tersebut dalam bahasa Indonesia.
\u201cSegala penghormatan, keberkahan, salawat, dan kebaikan hanya milik Allah. Salam sejahtera untukmu, wahai Nabi, serta rahmat dan berkah Allah. Salam sejahtera bagi kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sungguh, Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberikan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sungguh, Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.\u201d tulis teks tersebut.
Selain bacaan, posisi fisik saat duduk tawaruk menjadi aspek krusial dalam pelaksanaan rukun ini. Kaki kiri harus diselipkan di bawah kaki kanan dengan telapak kaki kanan ditegakkan menghadap kiblat sembari duduk di atas lantai atau sajadah.
\u201cBahwa Rasulullah apabila duduk dalam sholat (tasyahhud akhir), beliau mengedepankan kaki kirinya (mengeluarkan kaki kirinya) di antara paha dan betisnya, dan menghamparkan kaki kanannya. Beliau meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya, dan meletakkan tangan kanannya di atas paha kanannya, sembari memberi isyarat dengan telunjuknya.\u201d kata Rasulullah dalam hadits riwayat Al-Imam Muslim no. 579.
Posisi tangan juga diatur sedemikian rupa dengan jari telunjuk yang diangkat saat mencapai kalimat tertentu. Jari telunjuk tangan kanan berfungsi sebagai simbol kesaksian atas keesaan Allah SWT saat dilafalkan dalam doa.
\u201cBahwa Nabi apabila duduk dalam sholat, beliau meletakkan tangan kanannya di atas lututnya dan mengangkat telunjuk tangan kanannya untuk berdoa, serta menghamparkan tangan kirinya di atas lututnya.\u201d ujar riwayat dari sahabat \u2018Abdullah bin \u2018Umar dalam Al-Imam At-Tirmidzi no. 294.
Detail lebih lanjut mengenai posisi telapak tangan dijelaskan dalam riwayat lainnya untuk menyempurnakan kekhusyukan. Tangan kiri diletakkan terbuka di atas lutut, sedangkan tangan kanan dalam posisi menggenggam jari selain telunjuk.
\u201cRasulullah \ufdfa apabila duduk dalam sholat, beliau meletakkan telapak tangan kanannya di atas paha kanannya dengan menggenggam seluruh jari-jarinya dan memberi isyarat dengan telunjuknya, serta meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha kirinya.\u201d jelas teks tersebut merujuk pada Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 580.