ASN Perempuan Hadapi Tantangan Beban Ganda Selama WFH di Jakarta

ASN Perempuan Hadapi Tantangan Beban Ganda Selama WFH di Jakarta
Foto: Ilustrasi ASN Perempuan Hadapi Tantangan Beban Ganda Selama WFH di Jakarta.

Kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup pemerintah daerah telah diterapkan secara berkala setiap Jumat sejak April lalu. Langkah ini diambil pemerintah sebagai upaya menekan kepadatan lalu lintas di Ibu Kota Jakarta.

Dikutip dari Lifestyle, peralihan ruang kerja dari kantor ke rumah membawa konsekuensi pelik bagi pegawai perempuan. Bagi para ibu bekerja, skema ini memaksa mereka menyatukan tanggung jawab profesional dan fungsi pengasuhan dalam satu waktu yang bersamaan.

Batas antara kewajiban terhadap negara dan urusan rumah tangga menjadi kabur saat gangguan domestik muncul di tengah jam dinas. Hal ini menuntut strategi khusus agar produktivitas tetap terjaga tanpa mengabaikan kebutuhan keluarga di rumah.

Mengatur ulang jadwal harian menjadi kunci utama yang harus dilakukan sejak dini hari. Strategi ini bertujuan agar waktu kerja daring tidak berubah menjadi situasi yang kacau akibat sisa pekerjaan rumah yang terbengkalai.

Ika Meilani Untari (42), seorang ASN di Pemkot Jakarta Timur, menekankan pentingnya menyelesaikan urusan domestik sebelum jam kantor resmi dibuka. Sebagai ibu dari remaja berusia 16 tahun, ia membutuhkan ketenangan total saat melakukan analisis data pekerjaan.

"Kalau aku, biasanya aku akan menyelesaikan semua pekerjaan itu sebelum jam kerja," kata dia.

Ika berkomitmen untuk menuntaskan segala aktivitas pembersihan atau penataan rumah pada pagi hari. Dengan demikian, fokusnya tidak akan terpecah ketika dirinya harus mulai bersiaga di depan layar komputer untuk menjalankan tugas birokrasi.

"Jam delapan itu diusahakan sudah beres semua gitu urusan rumah," ujar Ika.

Skala Prioritas dalam Situasi Darurat

Meskipun jadwal telah disusun rapi, instruksi mendadak dari instansi sering kali datang tanpa terduga. Pegawai dituntut mampu menempatkan prioritas tertinggi pada tugas kantor yang bersifat mendesak, meskipun sedang melakukan aktivitas rumah tangga ringan.

"Kalau misalkan memang urgent, sangat urgent dan harus diselesaikan detik itu juga, ya pasti kita akan tinggalkan apa yang kita kerjakan," tutur Ika.

Bagi Ika, fleksibilitas lokasi kerja bukan berarti melonggarkan kesiagaan sebagai abdi negara. Kemampuan mengelola tingkat kedaruratan pekerjaan menjadi ujian nyata bagi para ASN yang menjalankan tugas dari kediaman pribadi.

Siasat Fokus bagi Ibu dengan Balita

Tantangan lebih berat dirasakan oleh pekerja yang memiliki anak usia dini atau balita, seperti yang dialami Shinta Kurniaputri (34). ASN Pemkot Jakarta Timur ini harus mengasuh dua anaknya yang berusia 7 tahun dan 1 tahun sambil tetap bekerja.

Interaksi langsung dengan bayi yang membutuhkan perhatian penuh sering kali berbenturan dengan tugas dari pimpinan. Shinta mengakui bahwa dirinya harus memutar otak agar kedua peran tersebut tidak saling mengorbankan satu sama lain.

"Kecuali kalau kerjaannya agak santai, enggak terlalu buru-buru, bisa sambil main, bisa sambil dikerjain gitu sih," kata Shinta.

Namun, ketika beban kerja sedang tinggi dan memerlukan konsentrasi penuh, memisahkan diri secara fisik dari jangkauan anak menjadi solusi terakhir. Shinta biasanya meminta bantuan anggota keluarga lain untuk mengawasi buah hatinya sementara waktu.

"Jadi kadang ya udah, akunya menghilang dulu gitu loh kalau mau fokus kerja. Jadi kadang memang tidak bareng si anak bayi ini," ujar dia.

Mengelola Dilema dan Rasa Bersalah

Munculnya rasa bersalah merupakan dinamika emosional yang kerap dialami ibu bekerja saat harus mengabaikan rengekan anak demi pekerjaan. Kondisi ini dipandang sebagai konsekuensi yang tidak terelakkan dalam skema kerja ganda di rumah.

"Ya merasa bersalah sih kadang ada gitu ya. Namanya juga ibu-ibu working mom gitu kan," kata Shinta.

Berbeda dengan Shinta, Ika Meilani yang memiliki anak usia SMA merasa konflik batin tersebut kini sudah berkurang seiring kemandirian sang anak. WFH justru memberinya kesempatan untuk tetap memantau perkembangan anak sambil bekerja.

"Rasa bersalah enggak ada, karena ya itu saja, kalau di rumah kan kita bisa sambil bekerja, sambil ngemong anak, sambil ngelihatin gitu," kata Ika.

Ketegasan dalam membagi ruang privasi selama jam kantor menjadi keterampilan dasar yang harus dilatih. Hal ini dianggap penting untuk menjaga keseimbangan antara performa kerja dan kewarasan emosional para pegawai perempuan.

"Kalau memang yang urgent banget harus fokus, memang harus misah dulu," kata Shinta.

Artikel terkait

Rekomendasi