Sedikitnya 14 orang meninggal dunia dan 84 lainnya luka-luka akibat kecelakaan yang melibatkan KRL Commuter Line dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, pada Senin (27/4/2026) malam. Proses evakuasi seluruh korban kini telah dinyatakan selesai oleh pihak terkait.
Data terbaru dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menunjukkan para korban luka telah mendapatkan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan di wilayah Bekasi. Insiden maut ini memicu sorotan tajam mengenai standar keselamatan transportasi publik di Indonesia, sebagaimana dilansir dari Kompas.
Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Ellen Tangkudung, mengungkapkan bahwa kereta api seharusnya menjadi moda transportasi yang paling aman karena memiliki jalur sterilisasi. Namun, ia menekankan peran penting sumber daya manusia dalam mengelola teknologi operasional.
ÔÇ£Sebenarnya kereta itu adalah angkutan umum. Jadi dari sisi transportasi ya, angkutan umum yang paling aman, paling berkeselamatan ya. Jadi semuanya bisa dihandel gitu karena sudah punya jalur sendiri. Namun apa pun ada teknologi di situ, ada manusia juga di situ yang mengelola,ÔÇØ ujarnya Ellen Tangkudung, Dewan Penasihat MTI.
Ellen berpendapat bahwa kecelakaan tersebut seharusnya bisa diantisipasi jika sistem peringatan dini bekerja secara optimal untuk memberi informasi kepada rangkaian kereta di belakangnya. Ketersediaan informasi gangguan jalur yang cepat dinilai sangat krusial dalam operasional kereta api modern.
ÔÇ£Seharusnya ada peringatan ke kereta di belakang, sehingga bisa mengurangi kecepatan atau berhenti sebelum terjadi tabrakan,ÔÇØ kata Ellen Tangkudung, Dewan Penasihat MTI.
Aspek infrastruktur stasiun turut menjadi catatan bagi MTI, terutama mengenai kebutuhan jalur pengalihan di lokasi dengan frekuensi lalu lintas kereta yang padat. Ellen mempertanyakan fasilitas wesel dan lintasan alternatif di Stasiun Bekasi Timur guna menghindari penumpukan di satu titik saat keadaan darurat.
ÔÇ£Harusnya semua stasiun terutama yang ramai itu sudah ada jalur untuk pengalihan dari situ. Jadi bisa dengan manual maupun dengan teknologi,ÔÇØ ujarnya Ellen Tangkudung, Dewan Penasihat MTI.
Merujuk pada sistem di negara maju seperti Jerman dan Belanda, keberadaan jalur alternatif memungkinkan operasional tetap berjalan meski terjadi kendala teknis. Saat ini, penyebab pasti kecelakaan masih menunggu hasil investigasi resmi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).