Insiden maut melibatkan KA Argo Bromo Anggrek yang menabrak bagian belakang KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam mengakibatkan 14 orang meninggal dunia. Peristiwa tragis ini dilaporkan melukai lebih dari 80 orang lainnya setelah rangkaian kereta jarak jauh menghantam kereta komuter yang sedang berhenti.
Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Deddy Herlambang, mengungkapkan bahwa kecelakaan dipicu oleh gangguan awal di perlintasan sebidang JPL 85 Jalan Ampera. Sebuah taksi listrik dilaporkan tertemper KRL di lokasi tersebut, sehingga menyebabkan antrean perjalanan kereta di jalur menuju Bekasi.
Data awal menunjukkan bahwa kemacetan jalur akibat kecelakaan di perlintasan sebidang membuat KRL tertahan di Stasiun Bekasi Timur. Dilansir dari Kompas, operasional kereta terganggu secara beruntun hingga akhirnya terjadi tabrakan fatal dari arah belakang oleh kereta mesin diesel.
ÔÇ£Jadi memang peristiwa atau insiden semalam itu, kalau kita lihat, memang trigger-nya ada di perlintasan sebidang JPL 85 itu di Jalan Ampera, ya. Jadi Jalan Ampera di sana ada taksi listrik. Taksi listrik ketemper KRL juga. Jadi ketika ada kereta listrik ketemper, sehingga KRL juga di belakangnya tidak bisa melintas sehingga tertahan di Stasiun Bekasi Timur,ÔÇØ ujar Deddy Herlambang, Ketua Forum Perkeretaapian MTI.
Kondisi jalur yang belum steril menyebabkan kereta jarak jauh yang melintas di rel yang sama tidak sempat melakukan pengereman maksimal. Deddy menjelaskan kronologi masuknya rangkaian kereta eksekutif tersebut ke titik benturan.
ÔÇ£Ternyata di belakang itu ada kereta nomor 4 Argo Bromo Anggrek itu ya, yang lewat di jalur yang sama sehingga terjadilah peristiwa seperti itu, menubruk dari belakang. Jadi ya memang seperti semalam itu terjadi, bahwa banyak perubahan itu karena KRL yang ditabrak dari belakang oleh kereta lok diesel sehingga terjadi fatalitas,ÔÇØ kata Deddy Herlambang.
Analisis MTI juga menyoroti potensi kelalaian manusia terkait kepatuhan terhadap rambu-rambu elektrik di sepanjang lintasan Jatinegara hingga Cikarang. Sistem persinyalan di wilayah tersebut sebenarnya sudah menggunakan mekanisme otomatis.
ÔÇ£Yang kedua adalah dari kereta jarak jauh atau kereta antarkota itu sendiri yang diduga lalai melihat sinyal. Sinyal lampu merah yang seharusnya berhenti,ÔÇØ ujar Deddy Herlambang.
Sistem open block yang diterapkan seharusnya memberikan peringatan bertahap melalui perubahan warna lampu sinyal saat ada rangkaian di depan. Namun, kereta jarak jauh tetap melaju meski indikator seharusnya menunjukkan tanda berhenti wajib.
ÔÇ£Kalau open block, sehingga ketika ada kereta yang lewat, itu pasti sinyal di belakangnya pasti akan berwarna kuning. Lalu setelah kereta itu lewat sekitar 200-300 m akan berwarna merah. Nah, ketika warna itu warna merah, seharusnya kereta yang dari belakang itu seharusnya berhenti,ÔÇØ jelas Deddy Herlambang.
Faktor kelelahan masinis menjadi salah satu poin yang akan didalami lebih lanjut dalam proses investigasi. Hal ini dikarenakan kendali penuh pengereman pada sistem kereta api saat ini masih bersifat manual di tangan awak sarana perkeretaapian.
ÔÇ£Karena masinis itu mungkin lalai, tidak melihat atau ada masalah yang lain sehingga tidak melihat di sinyal tersebut, sinyal warna merah, lalu mereka terus sehingga menabraklah KRL tepatnya di Stasiun Bekasi Timur gitu,ÔÇØ papar Deddy Herlambang.
Dugaan adanya human error menjadi fokus utama karena teknologi yang ada saat ini belum dilengkapi dengan penghenti kereta otomatis. Deddy menyebutkan bahwa aspek kelelahan sering kali menjadi faktor krusial dalam insiden transportasi.
ÔÇ£Paling tidak, saat ini yang kita bisa analisis itu mungkin karena human factor ya. Jadi mungkin kelalaian, mungkin karena fatigue, bisa juga kelalaian dan lain-lain,ÔÇØ ujar Deddy Herlambang.
Sistem operasional di Indonesia saat ini dinilai masih sangat bergantung pada kewaspadaan personel di lapangan. Meskipun ada indikator otomatis, tindakan fisik untuk menghentikan laju kereta tetap dilakukan secara manual oleh masinis.
ÔÇ£Kalau untuk masinis itu memang dikendalikan secara manual,ÔÇØ kata Deddy Herlambang.
Hingga saat ini, pihak terkait masih menunggu hasil investigasi menyeluruh dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Proses evakuasi dan pendataan korban luka di rumah sakit sekitar Bekasi masih terus berlangsung.