Survei Logitech Ungkap Perbedaan Pandangan Antargenerasi Terkait Karier E-Sports

Survei Logitech Ungkap Perbedaan Pandangan Antargenerasi Terkait Karier E-Sports
Foto: Ilustrasi Survei Logitech Ungkap Perbedaan Pandangan Antargenerasi Terkait Karier E-Sports.

Dunia game kompetitif atau e-sports kini mulai dipandang sebagai jalur karier yang serius dan menjanjikan bagi mayoritas Generasi Z (Gen Z). Namun, profesi gamer profesional ini masih menghadapi keraguan dari para orangtua terkait stabilitas masa depannya.

Fenomena global mengenai pergeseran pandangan dunia kerja di era digital ini terungkap dalam survei Logitech G PRO Series, seperti dikutip dari Tekno. Riset tersebut melibatkan 18.000 responden di 12 negara, meliputi Amerika Serikat, China, Korea Selatan, Jerman, hingga Australia.

Hasil survei menunjukkan bahwa 54 persen responden global menganggap game profesional sebagai jalur karier yang sah. Dukungan terbesar berasal dari generasi muda, dengan 67 persen Gen Z dan 60 persen Milenial percaya bahwa menjadi atlet e-sports adalah profesi yang valid, sedangkan hanya 37 persen Baby Boomers yang berpandangan serupa.

Meskipun industri e-sports berkembang pesat dengan turnamen berhadiah besar dan dukungan sponsor, profesi gamer profesional masih memiliki prestise yang rendah dibandingkan pekerjaan konvensional. Dalam survei tersebut, tenaga kesehatan menempati posisi tertinggi sebagai profesi paling terhormat dengan 55 persen, disusul pengacara 33 persen, guru atau dosen 30 persen, dan teknisi 28 persen, sementara gamer profesional hanya memperoleh 8 persen.

Rendahnya dukungan dari generasi tua terlihat dari data bahwa hanya 1 persen Baby Boomers dan 3 persen Gen X yang bersedia merekomendasikan profesi ini kepada anak atau orang terdekat mereka. Bahkan, generasi Milenial pun cenderung berhati-hati dengan hanya 4 persen yang mau memberikan rekomendasi serupa.

Faktor finansial dan kestabilan pekerjaan menjadi alasan utama di balik sikap hati-hati tersebut. Sebanyak 42 persen responden menilai karier gamer profesional berisiko keuangan tinggi, 34 persen menganggap industrinya terlalu kompetitif, 31 persen menyoroti kurangnya dukungan lingkungan, dan sepertiga responden menilai profesi ini tidak menawarkan jaminan jangka panjang.

Tuntutan Fisik, Mental, dan Kebutuhan Edukasi

Selain faktor risiko, masyarakat juga mulai memahami bahwa karier di dunia e-sports memiliki tuntutan tinggi. Sebanyak 84 persen responden menilai profesi ini membutuhkan kemampuan mental yang kuat, dan 55 persen menyebutkan perlunya ketahanan fisik.

Kerasnya pola latihan juga mulai disadari oleh publik, di mana 27 persen responden memperkirakan gamer profesional berlatih selama 10 hingga 12 jam per hari. Durasi waktu tersebut tercatat lebih panjang daripada jam kerja kantoran pada umumnya.

Tingginya tuntutan ini mendorong munculnya aspirasi untuk mempersiapkan karier e-sports sejak dini melalui jalur formal. Hampir setengah responden global atau 47 persen setuju agar sekolah menghadirkan kelas e-sports dalam kurikulum, dengan dukungan tertinggi di China sebesar 77 persen dan Swiss 73 persen.

Secara global, sebanyak 65 persen responden mendukung penyediaan jalur pendidikan formal untuk industri game, baik lewat universitas maupun kursus khusus. Beberapa faktor seperti perluasan liputan media, penyediaan fasilitas pelatihan, transparansi pendapatan, serta kehadiran e-sports di ajang Olimpiade dinilai dapat meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap profesi ini.

Artikel terkait

Rekomendasi