Stres Kronis Picu Kenaikan Tekanan Darah dan Risiko Penyakit Jantung

Stres Kronis Picu Kenaikan Tekanan Darah dan Risiko Penyakit Jantung
Foto: Ilustrasi Stres Kronis Picu Kenaikan Tekanan Darah dan Risiko Penyakit Jantung.

Kondisi stres berkepanjangan dilaporkan memicu respons fisiologis tubuh yang berdampak langsung pada kenaikan tekanan darah secara signifikan. Fenomena kesehatan ini menjadi perhatian para pakar medis karena risiko jangka panjang terhadap sistem kardiovaskular manusia pada Rabu, 15 April 2026.

Pelepasan hormon seperti adrenalin dan kortisol saat terjadi respons 'lawan atau lari' menyebabkan pembuluh darah menyempit dan detak jantung meningkat. Fenomena ini dilansir dari Detik Health yang mengutip penjelasan mengenai dampak buruk aktivasi berulang hormon stres terhadap kesehatan jantung.

Spesialis penyakit dalam dan gaya hidup asal Oregon, Amerika Serikat, Dr Nneoma Oparaji memberikan penjelasan mengenai definisi medis dari kondisi tekanan darah tinggi tersebut.

"Tekanan darah tinggi, atau hipertensi, adalah kondisi medis di mana kekuatan darah yang mendorong dinding arteri selalu tinggi," jelas spesialis penyakit dalam dan gaya hidup di Oregon Amerika Serikat, Dr Nneoma Oparaji.

Oparaji menambahkan bahwa mekanisme pertahanan tubuh manusia tidak dapat membedakan antara ancaman fisik yang nyata dengan tekanan pekerjaan sehari-hari.

"Sayangnya, tubuh tidak mengetahui perbedaan antara keadaan darurat yang sebenarnya dan kotak masuk yang penuh, sehingga tubuh merespons dengan melepaskan hormon stres yang sama yang meningkatkan tekanan darah," lanjutya yang dikutip dari Eating Well.

Efek kardiovaskular yang terjadi meliputi percepatan aliran darah dan penyempitan pembuluh darah yang diibaratkan seperti air bertekanan tinggi dalam selang sempit. Kondisi ini dibedakan menjadi stres akut yang bersifat jangka pendek dan stres kronis yang berlangsung lama.

Psikologis Erika Kawamura memaparkan perbedaan pemulihan tubuh antara kedua jenis tekanan mental tersebut terhadap level tekanan darah.

"Biasanya, begitu pemicu stres situasional [stres akut] hilang dan orang tersebut juga tidak lagi merasa stres karenanya, tekanan darah akan kembali ke tingkat normal sebelum pemicu stres tersebut," kata psikologis Erika Kawamura.

Kaitan antara durasi stres dengan timbulnya penyakit serius ditegaskan kembali oleh pakar medis sebagai ancaman kesehatan yang nyata.

"Stres kronis seringkali menyebabkan kondisi medis jangka panjang seperti hipertensi atau stroke," kata Dr Oparaji.

Kawamura turut memberikan analisis mengenai dampak serangan jantung yang lebih signifikan pada penderita gangguan tekanan mental berkepanjangan.

"Dampaknya jauh lebih signifikan untuk stres kronis karena tubuh berada dalam mode 'lawan atau lari' yang konstan," ucapnya.

Selain faktor biologis, perubahan perilaku penderita akibat tekanan mental juga memperburuk kondisi kesehatan fisik melalui kebiasaan buruk harian.

"Ketika orang mengalami stres kronis, mereka mungkin lebih cenderung terlibat dalam mekanisme mengatasi stres yang tidak sehat seperti pola makan yang buruk, kurang olahraga, minum alkohol, atau merokok, yang semuanya dapat meningkatkan tekanan darah," kata Kawamura.

Oparaji mengingatkan bahwa meskipun stres akut terjadi dalam waktu singkat, akumulasi dari kejadian yang berulang tetap memiliki konsekuensi medis.

"Paparan stres berulang dapat menyebabkan lonjakan tekanan darah sementara yang sering terjadi, yang dapat berkontribusi pada variabilitas tekanan darah," kata Dr Oparaji.

Variabilitas tekanan darah yang tinggi merupakan faktor risiko yang berhubungan erat dengan masalah pada sistem pembuluh darah dan jantung di masa depan.

"Variabilitas yang lebih tinggi telah dikaitkan dengan risiko kardiovaskular yang lebih besar." lanjut Dr Nneoma Oparaji.

Artikel terkait

Rekomendasi