REI Ungkap Strategi Pemasaran Properti Berstigma Angker Agar Laku

REI Ungkap Strategi Pemasaran Properti Berstigma Angker Agar Laku
Foto: Ilustrasi REI Ungkap Strategi Pemasaran Properti Berstigma Angker Agar Laku.

Wakil Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) Bambang Ekajaya membagikan strategi khusus untuk memasarkan properti berstigma angker agar tetap diminati pembeli, Minggu (26/4/2026). Langkah paling krusial adalah melakukan penataan ulang menyeluruh atau pembongkaran bangunan lama untuk mengubah persepsi pasar.

Penurunan minat pembeli sering dipicu oleh rekam jejak peristiwa tragis seperti tindak kriminal atau bunuh diri yang sempat terekspos luas ke publik. Hal ini berdampak pada jatuhnya harga properti hingga di bawah separuh dari nilai pasar normal, sebagaimana dilansir dari Properti.

"Kalau sudah viral dan diketahui banyak orang, peminat pasti turun dan waktu jualnya juga bisa sangat lama," ujar Bambang Ekajaya, Wakil Ketua Umum DPP REI.

Bambang menekankan bahwa pendekatan pemasaran standar sering kali gagal dalam menghadapi objek properti dengan citra negatif tersebut. Transformasi fisik melalui desain baru yang lebih modern menjadi kunci utama agar identitas lama bangunan tidak lagi membekas di ingatan calon konsumen.

Berdasarkan pengalaman pribadinya, Bambang pernah menangani sebuah rumah yang tidak kunjung laku selama tiga tahun setelah penyewanya melakukan bunuh diri. Penjualan baru berhasil terlaksana setelah pengembang memutuskan untuk meruntuhkan bangunan lama dan membangun kembali hunian dengan gaya kontemporer.

Pola serupa terjadi pada rumah di kawasan Pondok Indah yang sempat dikenal masyarakat luas sebagai lokasi berhantu. Properti tersebut sempat terbengkalai selama setahun sebelum akhirnya dikembangkan kembali oleh investor baru.

"Setelah dibangun kembali, akhirnya bisa terjual lagi dan bahkan memberikan keuntungan yang besar," kata Bambang Ekajaya, Wakil Ketua Umum DPP REI.

Para investor jangka panjang kini melihat fenomena ini sebagai peluang bisnis yang menjanjikan. Harga beli awal yang rendah memberikan ruang bagi pemilik untuk mendapatkan margin keuntungan yang signifikan setelah proses pengembangan ulang selesai dilakukan.

Artikel terkait

Rekomendasi