Mayoritas perusahaan global kini mengubah strategi komunikasi terkait target emisi nol bersih atau net zero dengan fokus pada ketahanan dan pengurangan risiko untuk menghadapi ketidakpastian politik serta media. Perubahan pola komunikasi ini terungkap dalam laporan G7 Net Zero Temperature Check yang dirilis pada Selasa (21/4/2026).
Jajak pendapat yang dilakukan oleh British Standards Institution (BSI) melibatkan lebih dari 7.000 pemimpin bisnis di negara-negara G7, yakni Inggris, Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Italia, Kanada, dan Jepang. Laporan tersebut menunjukkan bahwa meski pesan keberlanjutan berubah, komitmen terhadap aksi iklim tetap kuat demi meraih peluang bisnis jangka panjang.
Data dalam survei yang dilansir dari Lestari menunjukkan sebanyak 83 persen responden tetap berkomitmen mencapai target net zero nasional. Sekitar 78 persen pelaku bisnis menegaskan akan terus mengejar target tersebut karena dinilai menguntungkan, sementara 76 persen lainnya didorong oleh ekspektasi pelanggan.
Aktivitas korporasi dalam bidang ini juga tercatat meningkat, di mana 69 persen responden melaporkan penguatan aksi net zero selama setahun terakhir. Sebaliknya, hanya 4 persen perusahaan yang mengaku mengalami penurunan aktivitas dalam periode yang sama.
Keuntungan strategis menjadi alasan utama di balik persistensi ini, dengan 75 persen pemimpin bisnis setuju bahwa net zero krusial bagi ketahanan masa depan. Selain itu, 74 persen responden menilai risiko mengabaikan transisi iklim jauh lebih besar dibandingkan risiko melaksanakannya.
Tantangan kebijakan tetap menjadi hambatan serius bagi investasi, mengingat 76 persen responden merasa ketidakpastian aturan pemerintah mempersulit kepercayaan diri dalam menanam modal. Kondisi ini membuat 32 persen perusahaan merevisi rencana mereka dan 33 persen mengevaluasi ulang target transisi.
CEO BSI memberikan pandangan mengenai pentingnya kemandirian energi dan adaptasi rantai pasok dalam menghadapi perubahan iklim global saat ini.
"Kejadian geopolitik belakangan ini memperjelas pentingnya keamanan energi dan peran energi terbarukan. Hal ini juga menunjukkan pentingnya pola pikir ketahanan dalam menghadapi perubahan iklim, dengan fokus pada pengurangan risiko, pengelolaan rantai pasok, dan kesiapan masa depan," ungkap Susan Taylor Martin, CEO BSI.
Pemimpin organisasi tersebut menekankan bahwa kesadaran akan investasi berkelanjutan telah menjadi bagian dari pemikiran strategis para pemimpin bisnis untuk menjaga kelangsungan operasional.
"Jelas bahwa banyak pemimpin bisnis sudah berpikir seperti ini dan menyadari bahwa jika tidak berinvestasi pada net zero, operasi mereka bisa terancam dalam jangka panjang," tambah Susan Taylor Martin, CEO BSI.
Selain faktor politik, kendala utama yang menghambat kemajuan net zero meliputi biaya tinggi (26 persen), keterbatasan pendanaan teknologi ramah lingkungan (25 persen), serta minimnya keterampilan internal (23 persen). Meski demikian, 79 persen responden yakin isu ini akan kembali menjadi prioritas politik utama dalam satu dekade ke depan.