Kepadatan calon penumpang terjadi di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, pada Selasa (28/4/2026) pagi akibat gangguan jadwal keberangkatan. Situasi ini dilansir dari Megapolitan merupakan dampak berantai dari insiden kecelakaan yang melibatkan kereta api di wilayah Bekasi Timur.
Antrean panjang tampak mengular di area loket layanan hingga peron stasiun. Para penumpang yang membawa tas besar dan koper harus menunggu tanpa kepastian waktu keberangkatan yang jelas, sementara pengumuman keterlambatan terus disiarkan melalui pengeras suara.
Kondisi di lapangan menunjukkan sebagian penumpang memilih duduk di kursi tunggu, sedangkan lainnya tetap berdiri sambil memantau papan informasi. Ketidakpastian jadwal ini memicu kegelisahan bagi mereka yang memiliki agenda mendesak di kota tujuan.
Menghadapi situasi yang tidak menentu, sejumlah calon penumpang memutuskan untuk membatalkan rencana perjalanan mereka. Proses pengembalian dana atau refund menjadi opsi utama bagi mereka yang memiliki keterikatan waktu pekerjaan.
ÔÇ£Aku dari Kemayoran, mau kerja. Tujuan aku tuh Gambir ke Indramayu. Cuma sekarang aku sudah menunggu sekitar 45 menit. Cuma belum ada kepastian itu delay sampai kapan,ÔÇØ ujar Vivi, salah satu calon penumpang yang terdampak.
ÔÇ£Aku mau membatalkan langsung, karena di sana juga batal. Job saya batal di sana. Jadi terpaksa aku harus batalkan, atau ke lokasi lain, travel, begitu,ÔÇØ kata Vivi melanjutkan.
Di sisi lain, tidak sedikit penumpang yang memilih bertahan di stasiun meski harus menunggu hingga berjam-jam. Komitmen perjalanan yang sudah terencana secara matang menjadi alasan utama mereka tidak mengambil opsi pembatalan.
ÔÇ£Kalau saya pribadi, niat untuk membatalkan sampai saat ini tidak ada. Tetap setia masih menunggu saja. Karena semua sudah terbooking, jadi tidak mungkin kita cancel,ÔÇØ tutur Leni yang tetap menunggu di area stasiun.
Pertimbangan serupa juga diambil oleh Sin Sin yang bepergian dalam rombongan besar berjumlah 14 orang menuju Jawa Tengah. Baginya, pembatalan akan berdampak pada pesanan hotel yang sudah dilakukan jauh hari.
ÔÇ£Sebenarnya kalau dari booking sih sudah pasti, kan hotel tiga hari dua malam. Kalau tempat wisata itu kan dadakan, bisa. Karena kita enggak banyak sih, paling 14 orang,ÔÇØ ucap Sin Sin.
ÔÇ£Kalau kerugiannya sih mau tidak mau, tapi balik lagi prihatin dengan saudara-saudara kita, namanya musibah. Kita terima apa adanya,ÔÇØ ujar Sin Sin menambahkan.
Sementara itu, penumpang lain bernama Ares memilih memantau informasi melalui kanal media sosial resmi sebelum menentukan langkah selanjutnya. Ia mengaku keretanya tidak termasuk dalam daftar jadwal yang dibatalkan secara total.
ÔÇ£Belum ada rencana pembatalan. Cuma kan baca dari Instagram KAI ada kereta-kereta yang dibatalkan, kebetulan kereta kita tidak dibatalkan, cuma enggak tahu kalau delay. Tadi menunggu sekitar dua jam, jadi lihat dulu benar jalan atau tidak,ÔÇØ kata Ares.
Dampak Kecelakaan Fatal di Stasiun Bekasi Timur
Gangguan operasional di Stasiun Gambir berakar dari kecelakaan hebat yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam pukul 20.52 WIB. Insiden tersebut melibatkan KRL jurusan Cikarang nomor PLB 5568A dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi GambirÔÇôSurabaya Pasar Turi.
Kecelakaan di emplasemen KM 28+920 ini mengakibatkan 14 penumpang KRL meninggal dunia dan 81 orang lainnya luka-luka. Seluruh korban luka telah dievakuasi ke berbagai fasilitas kesehatan di Bekasi, termasuk RSUD Bekasi, RS Bella, hingga RS Mitra Keluarga.
Di sisi lain, sebanyak 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan dalam kondisi selamat. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, memberikan konfirmasi mengenai identitas para korban yang meninggal dunia dalam peristiwa tragis tersebut.
ÔÇ£Berdasarkan informasi dari 14 korban, empat orang itu warga Jakarta,ÔÇØ ujar Rano Karno saat mengunjungi rumah duka salah satu korban di wilayah Kemayoran.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengerahkan bantuan melalui BPBD dan PMI sejak malam kejadian. Hingga Selasa siang, aktivitas di Stasiun Gambir masih berupaya kembali normal di tengah penyesuaian jadwal yang terus dilakukan oleh pihak operator kereta api.