Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan sejumlah perusahaan pengelola SPBU swasta di Indonesia telah memulai proses pembelian bahan bakar minyak jenis solar dari PT Pertamina (Persero) pada Rabu (6/5/2026). Langkah strategis ini merupakan implementasi dari kebijakan pemerintah untuk menghentikan total impor solar mulai tahun 2026.
Dilansir dari Detik Finance, pemenuhan kebutuhan solar bagi badan usaha swasta kini dialihkan ke produksi kilang domestik milik Pertamina. Kebijakan ini menyasar penghentian impor solar jenis CN 48 pada Maret 2026, yang kemudian akan diikuti oleh produk CN 51 pada semester kedua tahun yang sama.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyatakan bahwa transaksi tersebut sudah mulai berjalan setelah adanya pengumuman resmi pemerintah pada April 2026. Menurutnya, koordinasi intensif antara pihak Pertamina dan pengusaha SPBU swasta telah dilakukan sejak rencana tersebut pertama kali disosialisasikan.
"(Sekarang) Sudah jalan, sebenernya kan sejak diumumkan, itu sudah dilakukan pertemuan pertemuan dan kalau ditanya ke swasta pasti sudah ada, coba aja tanya," ujar Laode, Direktur Jenderal Migas.
Laode menjelaskan bahwa jenis solar yang diserap oleh pihak swasta dari kilang dalam negeri saat ini adalah produk CN 48. Ia menegaskan kembali komitmen pemerintah untuk memastikan kemandirian pasokan solar secara nasional.
"Rencananya April sudah harus menggunakan solar dalam negeri," ujar Laode, Direktur Jenderal Migas.
Selain sosialisasi kepada seluruh pemilik badan usaha, Kementerian ESDM juga telah menginstruksikan Pertamina untuk memitigasi segala risiko teknis. Hal ini mencakup kesiapan infrastruktur pendukung untuk mencegah terjadinya gangguan distribusi selama masa transisi dari produk impor ke produk dalam negeri.
"Pada saat transisi ini, Pertamina harus menyediakan loading port yang memadai. Kemudian kargonya juga seperti apa dan dimatchingkan juga dengan beberapa volume yang dipesan oleh masing-masing badan usaha ini. Jadi pada bulan April nanti sudah tidak ada lagi krisis-krisis yang terjadi. Jadi sekarang kita mitigasi semua," ujar Laode, Direktur Jenderal Migas.