SpaceX Buka Laporan Keuangan ke Publik Jelang IPO di Bursa Nasdaq

SpaceX Buka Laporan Keuangan ke Publik Jelang IPO di Bursa Nasdaq
Foto: Ilustrasi SpaceX Buka Laporan Keuangan ke Publik Jelang IPO di Bursa Nasdaq.

Perusahaan teknologi antariksa milik Elon Musk, SpaceX, untuk pertama kalinya membuka gambaran rinci kondisi keuangan internalnya ke publik menjelang penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO). Dokumen prospektus IPO atau formulir S-1 telah diajukan kepada Securities and Exchange Commission (SEC).

Langkah ini dilakukan menjelang agenda roadshow investor yang dilaporkan dimulai pada 5 Juni 2026. Perusahaan yang nantinya diperdagangkan dengan kode saham SPCX di bursa Nasdaq itu memberikan gambaran pertama bagi investor mengenai kinerja bisnis, sumber pendapatan, tantangan operasional, hingga arah ekspansi.

Dikutip dari Money, SpaceX sebelumnya telah mengajukan dokumen IPO secara rahasia kepada SEC pada April 2026 untuk mendapatkan masukan regulator terkait rencana pencatatan saham. Perusahaan disebut membidik penghimpunan dana hingga 75 miliar dollar AS dengan valuasi mendekati 1,8 triliun dollar AS.

Jika terealisasi, nilai tersebut akan melampaui kapitalisasi pasar sejumlah perusahaan teknologi besar dunia, termasuk Tesla yang saat ini memiliki nilai pasar sekitar 1,4 triliun dollar AS. Berdasarkan dokumen tersebut, SpaceX membukukan pendapatan konsolidasi sebesar 4,694 billion dollar AS pada tiga bulan pertama 2026 atau periode yang berakhir pada 31 Maret 2026.

Namun, perusahaan masih mencatat rugi operasional sebesar 1,943 miliar dollar AS pada kuartal pertama 2026, sedangkan adjusted EBITDA tercatat mencapai 1,127 miliar dollar AS. Secara tahunan, sepanjang 2025, perusahaan membukukan pendapatan konsolidasi sebesar 18,674 miliar dollar AS dengan rugi operasional sebesar 2,589 miliar dollar AS dan adjusted EBITDA mencapai 6,584 miliar dollar AS.

Dalam dokumen tersebut, SpaceX menyebut segmen Space dan Connectivity menjadi kontributor utama pendapatan konsolidasi perusahaan. Segmen Connectivity yang mayoritas ditopang layanan internet satelit Starlink menjadi bisnis paling menguntungkan bagi SpaceX.

Pada kuartal I 2026, segmen ini membukukan pendapatan sebesar 3,257 miliar dollar AS, laba operasional 1,188 miliar dollar AS, dan adjusted EBITDA sebesar 2,087 miliar dollar AS. Sepanjang 2025, bisnis Connectivity menghasilkan pendapatan 11,387 miliar dollar AS, laba operasional mencapai 4,423 miliar dollar AS, dan adjusted EBITDA tercatat 7,168 miliar dollar AS.

Kinerja tersebut menunjukkan pertumbuhan tahunan yang signifikan bagi lini bisnis internet satelit. Pendapatan tumbuh 49,8 persen secara tahunan, laba operasional melonjak 120,4 persen, sementara adjusted EBITDA meningkat 86,2 persen.

SpaceX juga mengungkapkan bahwa hingga akhir Maret 2026, Starlink telah mengoperasikan lebih dari 9.600 satelit dan melayani sekitar 10,3 jua pelanggan. Pertumbuhan layanan internet satelit itu kini menjadi faktor utama yang menopang profitabilitas perusahaan dan dinilai menjadi alasan kuat pelaksanaan IPO saat ini.

Bisnis Peluncuran Roket dan Pengembangan Starship

Di luar Starlink, SpaceX juga menjalankan segmen Space yang mencakup bisnis peluncuran roket. Pada kuartal I 2026, unit tersebut menghasilkan pendapatan 619 juta dollar AS, namun masih mencatat rugi operasional sebesar 662 juta dollar AS serta kerugian adjusted EBITDA mencapai 351 juta dollar AS.

Sepanjang 2025, segmen Space menghasilkan pendapatan 4,086 miliar dollar AS dengan rugi operasional sebesar 657 juta dollar AS. Meskipun demikian, adjusted EBITDA untuk keseluruhan tahun 2025 pada segmen ini masih tercatat positif sebesar 653 juta dollar AS.

SpaceX juga mengungkapkan besarnya biaya pengembangan Starship, roket generasi terbaru yang dirancang untuk mengangkut kargo dalam jumlah besar sekaligus berpotensi menjadi wahana pendaratan di Bulan. Perusahaan telah menggelontorkan lebih dari 15 miliar dollar AS untuk proyek Starship yang melampaui anggaran awal, dan dijadwalkan menjalani misi uji terbang ke-12 pada pekan ini.

Investasi Besar pada Sektor Kecerdasan Buatan

Selain bisnis luar angkasa dan internet satelit, SpaceX kini juga mengembangkan bisnis kecerdasan buatan atau AI melalui segmen SpaceXAI yang mencakup bisnis xAI. Pada kuartal I 2026, lini AI membukukan pendapatan sebesar 818 juta dollar AS, namun mencatat rugi operasional sangat besar yakni mencapai 2,469 miliar dollar AS.

Kerugian adjusted EBITDA untuk bisnis AI pada kuartal pertama 2026 mencapai 609 juta dollar AS. Secara tahunan, bisnis AI SpaceX membukukan kerugian hingga 6,355 miliar dollar AS sepanjang 2025.

Dokumen IPO menunjukkan bahwa rugi operasional perusahaan saat ini sebagian besar dipicu investasi besar pada pengembangan AI. Sementara itu, bisnis inti SpaceX sebelumnya yakni Connectivity dan Space sudah mampu menghasilkan keuntungan operasional dan EBITDA secara gabungan.

Mekanisme IPO dan Rencana Strategis Masa Depan

Sesuai aturan SEC, SpaceX wajib membuka prospektus publik setidaknya 15 hari sebelum roadshow investor dimulai. Tahapan roadshow merupakan proses ketika perusahaan bersama penjamin emisi menawarkan saham kepada investor institusi besar dan perusahaan pialang untuk menentukan harga IPO final.

Setelah alokasi saham kepada investor institusi selesai dilakukan, prospektus final diterbitkan dan saham mulai diperdagangkan sehari setelah harga IPO ditetapkan. Bagi Elon Musk, IPO SpaceX menjadi salah satu tonggak penting dari ambisi panjang yang dibangun sejak perusahaan berdiri pada 2002.

Di sisi lain, SpaceX bersama Tesla juga mengumumkan Terafab, perusahaan patungan yang dirancang untuk mengintegrasikan seluruh tahapan produksi semikonduktor dalam satu fasilitas. Terafab akan mengembangkan dua jenis chip utama, yaitu prosesor edge inference untuk sistem full self-driving Tesla, robot humanoid Optimus, armada Robotaxi, serta chip berdaya tinggi untuk satelit SpaceX, pusat data orbital, dan pengembangan AI.

Dana segar hasil IPO nantinya juga akan digunakan untuk mendukung pembangunan pusat data orbital yang menjadi salah satu prioritas Elon Musk. Musk meyakini pengembangan komputasi AI di luar angkasa berpotensi lebih murah dibandingkan di Bumi. Di sisi kepemilikan saham, Musk dilaporkan masih menguasai sekitar 42 persen saham SpaceX sebelum potensi dilusi dari IPO, dan jika valuasi perusahaan mampu mencapai 1,6 triliun dollar AS, Musk berpotensi menjadi orang pertama di dunia dengan kekayaan menembus 1 triliun dollar AS.

Artikel terkait

Rekomendasi