SpaceX Bersiap Gelar IPO Terbesar dalam Sejarah Pasar Modal

SpaceX Bersiap Gelar IPO Terbesar dalam Sejarah Pasar Modal
Foto: Ilustrasi SpaceX Bersiap Gelar IPO Terbesar dalam Sejarah Pasar Modal.

Rencana besar tengah disiapkan oleh Elon Musk untuk membawa perusahaan antariksa miliknya, SpaceX, melantai di bursa saham melalui penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO).

Langkah korporasi ini diproyeksikan menjadi salah satu penjualan saham terbesar dalam sejarah pasar modal, seperti dikutip dari Money.

Dokumen pengajuan yang dirilis pada Rabu menunjukkan bahwa SpaceX masih membukukan kerugian besar, walaupun pendapatan perusahaan terus mengalami lonjakan yang signifikan.

Sepanjang tahun lalu, Space Exploration Technologies Corp mencatat kerugian sebesar 2,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 45,9 triliun, dengan acuan kurs Rp 17.687 per dollar AS.

Pada periode yang sama, pendapatan total perusahaan berhasil menyentuh angka 18,7 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 330,7 triliun.

Tren kerugian dari perusahaan antariksa ini dilaporkan masih terus berlanjut hingga awal tahun ini.

Meskipun target resmi dana yang ingin dihimpun belum diumumkan, sejumlah laporan memperkirakan SpaceX membidik sekitar 75 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.326 triliun dari IPO ini.

Jika rencana tersebut terealisasi, angka ini bakal menjadi IPO terbesar dalam sejarah modern dan melampaui capaian Saudi Aramco yang menghimpun 26 miliar dollar AS pada 2019.

Manajemen SpaceX menyatakan bahwa seluruh dana yang didapatkan dari hasil IPO akan digunakan untuk membiayai proyek kolonisasi luar angkasa.

Perusahaan tengah menyiapkan IPO pada 2026 dengan target dana lebih dari 25 miliar dollar AS, yang dapat membuat valuasi perusahaan melampaui 1 triliun dollar AS.

Pihak perusahaan menegaskan bahwa target utamanya adalah membawa manusia ke Bulan dan Mars demi menjaga keberlangsungan spesies manusia di masa depan.

"Kami tidak ingin manusia mengalami nasib yang sama seperti dinosaurus," tulis SpaceX dalam dokumen prospektusnya.

Dokumen prospektus tersebut juga memperlihatkan besarnya ambisi Elon Musk dalam proyek jangka panjang ini.

Sebagian kompensasi saham untuk Musk dikaitkan secara langsung dengan target pembangunan koloni permanen manusia di planet Mars.

Dalam dokumen itu disebutkan bahwa Musk baru akan menerima sebagian insentif saham jika berhasil membangun koloni manusia permanen dengan minimal satu juta penduduk di Mars.

Apabila proses IPO ini berjalan sukses, Musk berpotensi besar untuk menjadi triliuner pertama di dunia.

Saat ini, Forbes memperkirakan total kekayaan bersih yang dimiliki oleh Musk mencapai sekitar 839 billion dollar AS atau setara dengan Rp 14.840 triliun.

Di luar bisnis utama roket, SpaceX ditopang oleh beberapa lini usaha lain dengan performa finansial yang berbeda-beda.

Starlink menjadi salah satu penyumbang sumber pendapatan terbesar bagi perusahaan antariksa tersebut.

Bisnis layanan internet satelit itu berhasil menghasilkan laba operasional sebesar 4,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 77,8 triliun pada tahun lalu.

Hingga kini, Starlink mengoperasikan sekitar 10.000 satelit orbit rendah dan telah melayani sekitar 10 juta pelanggan yang tersebar di 150 negara dan wilayah.

Namun, tidak seluruh unit bisnis yang berada di bawah kendali Musk berjalan dengan mulus.

Unit media sosial X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter, serta perusahaan kecerdasan buatan miliknya, xAI, dilaporkan masih mengalami kerugian besar.

Kedua entitas bisnis tersebut baru-baru ini resmi diakuisisi oleh SpaceX.

Langkah korporasi ini menuai kritik dari sebagian investor yang menilai proses akuisisi tersebut menyerupai tindakan penyelamatan terhadap bisnis yang sedang bermasalah.

Berdasarkan data prospektus, bisnis kecerdasan buatan xAI mencatatkan kerugian hingga 6,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 113,2 triliun pada tahun lalu.

Sorotan Terhadap Kontrak Pemerintah dan Kendali Perusahaan

Lini bisnis utama SpaceX di sektor produksi roket dan peluncuran satelit selama ini banyak ditopang oleh kontrak dari pemerintah Amerika Serikat.

Kondisi finansial ini memicu pertanyaan baru mengenai hubungan dekat antara Musk dengan pemerintahan Donald Trump.

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, SpaceX sukses memenangkan kontrak pemerintah AS senilai sekitar 6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 106,1 triliun dari NASA, Departemen Pertahanan AS, serta lembaga federal lainnya.

Tercatat sekitar seperlima dari total pendapatan SpaceX pada tahun lalu berasal dari pendanaan pemerintah federal AS.

Sejumlah pengawas etika mulai mempertanyakan apakah kedekatan personal Musk dengan Trump memberikan andil bagi SpaceX dalam mendapatkan perlakuan khusus.

Musk diketahui bertindak sebagai donor terbesar dalam kampanye Trump dan tetap memberikan dukungan kepada presiden AS tersebut walau hubungan keduanya sempat menegang beberapa kali.

Di sisi lain, dokumen IPO memperlihatkan bahwa Musk akan tetap memegang kendali penuh yang besar atas operasional perusahaan.

Musk bersama sejumlah pemegang saham tertentu akan mendapatkan kepemilikan saham kelas khusus dengan hak 10 suara untuk setiap satu lembar saham.

Struktur kepemilikan modal ini membuat mereka tetap dapat mengontrol suara mayoritas dalam dewan direksi SpaceX.

"Ini akan membatasi atau menghalangi kemampuan Anda untuk memengaruhi urusan perusahaan dan pemilihan direksi kami," tulis SpaceX sebagai bentuk peringatan kepada para calon investor.

Sistem kompensasi untuk Musk juga digantungkan pada target capaian valuasi total perusahaan.

Prospektus menyebutkan insentif saham untuk Musk dibagi ke dalam 15 tahap, dengan masing-masing tahap terdiri atas sekitar 67 juta lembar saham.

Seluruh bonus saham tersebut baru akan diserahkan apabila kapitalisasi pasar SpaceX berhasil mencapai target nominal tertentu.

Untuk bisa mendapatkan penghargaan saham secara penuh, angka valuasi SpaceX di pasar harus menyentuh 7,5 triliun dollar AS atau sekitar Rp 132.652 triliun.

Musk juga dijanjikan akan menerima tambahan saham baru jika SpaceX berhasil membangun pusat data raksasa di ruang angkasa.

Sementara itu, gaji tahunan yang diterima Musk di SpaceX terhitung relatif kecil untuk ukuran miliarder dunia, yaitu 54.080 dollar AS atau sekitar Rp 956,7 juta per tahun.

Nominal gaji tahunan tersebut dilaporkan tidak mengalami perubahan sejak tahun 2019.

SpaceX diperkirakan bakal segera memulai agenda road show atau presentasi resmi kepada calon investor pada 4 Juni mendatang, sekitar dua pekan setelah dokumen prospektus ini dipublikasikan.

Artikel terkait

Rekomendasi