Puluhan siswa di kawasan Serpong Lagoon, Setu, Kota Tangerang Selatan, rutin mengikuti kegiatan bersepeda bersama menuju sekolah setiap hari Jumat. Aksi bertajuk Bike2School ini menjadi upaya warga untuk menghidupkan kembali budaya bersepeda sebagai sarana transportasi utama sejak pagi hari pada Jumat (17/4/2026).
Sebagaimana dilansir dari Megapolitan, inisiatif ini bermula dari keinginan Dimas Gilang Pamungkas untuk membentuk kebiasaan positif bagi buah hatinya. Sebelumnya, sang anak menggunakan jasa mobil jemputan akibat kondisi infrastruktur jalan yang dinilai kurang aman bagi pesepeda di lokasi tempat tinggal lama mereka di Cisauk.
Kekhawatiran terhadap keamanan dan jarak tempuh membuat Dimas memutuskan untuk memindahkan domisili keluarganya ke Serpong Lagoon. Dimas menekankan bahwa persetujuan dari sang anak menjadi kunci utama dimulainya kegiatan ini.
"Anak saya dulunya itu pakai mobil jemputan karena jaraknya jauh sama jalanannya sih yang enggak ramah buat anak-anak bersepeda," ujar Dimas, Inisiator Bike2School.
Keputusan pindah rumah didasari oleh kondisi lingkungan Serpong Lagoon yang dinilai lebih aman bagi aktivitas fisik anak. Dimas menyebutkan bahwa faktor rasa aman merupakan prasyarat mutlak sebelum mengizinkan anak-anak turun ke jalan dengan sepeda.
"Jadi pertama itu harus dibentuk dulu niatnya untuk bersepeda. Lalu kedua rasa aman saat bersepeda. Kalau engga ada rasa aman, saya juga enggak akan biarin anak saya untuk bersepeda," jelas Dimas.
Setelah menetap di lingkungan baru, Dimas mengamati fenomena mayoritas anak sekolah yang tetap mengandalkan kendaraan pribadi. Ia menyayangkan pergeseran fungsi sepeda yang kini lebih banyak dianggap sebagai alat rekreasi semata daripada moda transportasi jarak dekat.
ÔÇ£Sepeda itu dulunya alat transportasi, sekarang cuma jadi hobi,ÔÇØ kata Dimas.
Guna mengubah paradigma tersebut, Dimas mulai mengajak anak-anak di lingkungan rumahnya untuk berangkat sekolah bersama. Koordinasi dilakukan melalui pengurus RT setempat untuk menyebarkan informasi kegiatan.
Partisipasi peserta terus meningkat secara signifikan sejak dimulai perdana pada Januari 2021. Jika awalnya hanya diikuti 20 hingga 25 anak, kini tercatat ada sekitar 40 siswa yang rutin berkumpul setiap minggunya untuk bersepeda ke Sekolah Hikari.
Dimas menyatakan bahwa aspek kebersamaan menjadi daya tarik utama bagi para siswa untuk ikut serta. Melalui interaksi di sepanjang perjalanan, hubungan sosial antar anak di lingkungan tersebut menjadi semakin erat.
ÔÇ£Mereka jadi saling kenal, bisa ngobrol di jalan, bahkan di luar kegiatan, mereka juga bisa main bareng,ÔÇØ kata Dimas.
Kendati demikian, Dimas menyoroti tantangan besar berupa infrastruktur kota yang masih memprioritaskan kendaraan bermotor. Minimnya jalur khusus sepeda dan trotoar yang layak dianggap sebagai hambatan dalam memperluas kebiasaan ini.
ÔÇ£Kota kita dibangun bukan untuk manusia, tapi untuk kendaraan. Kalau untuk manusia kan harusnya ada jalur sepeda,ÔÇØ kata Dimas.
Melalui konsistensi gerakan Bike2School, Dimas berharap langkah kecil ini dapat memicu perubahan di lingkungan lain. Baginya, komitmen personal merupakan modal awal yang paling krusial.
ÔÇ£Harus dimulai dari niat, kalau tidak, ya tidak akan pernah jadi,ÔÇØ ucap Dimas.